Mimpi itu telah menjadi kenyataan. Sebuah event fashion akbar, lahir dari Jember dan memukau dunia.

Melengkapi program Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) 2008, Jember Fashion Carnaval (JFC) digelar 3 Agustus lalu. Tak kurang dari 550 peserta, terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan umum, melenggang di catwalk berupa jalan raya sepanjang 3,6 kilometer.

Ribuan mata memandang takjub, melebur dalam warna-warni busana unik yang dikenakan para peserta.

Seperti perhelatan terdahulu, JFC kali ini masih membawa standar pertunjukan fashion yang desain dan modenya jadi perpaduan antar budaya yang tengah berkembang di dunia. Terutama pada perubahan kondisi bumi akibat perilaku manusia yang tak terkendali. Sebut saja pemanasan global (Global Warming), peperangan, dan pencemaran lingkungan. Karena itulah pada JFC kali ini mengangkat tema utama World Evolution.

Dari tema itu pertunjukan fashion Carnival dibagi menjadi 9 defile ; JFC Marching Band, Archipelago Papua, Barricade, Off Earth, Gate 11, Roots, Metamorphic, Undersea, dan Robotic.

Masing-masing defile diikuti peserta yang umumnya malah belum pernah menempuh pendidikan di bidang fashion. Tapi demi standar yang prima, mereka memperoleh pelatihan berbagai ketrampilan, serta pembekalan secara gratis selama 6 bulan dan berhak untuk mengikuti kompetisi memperebutkan 75 trophy yang disediakan.

Kota Karnaval
Ajang ke tujuh kalinya ini jelas tak dilewatkan masyarakat. Di antara mereka, adapula para wisatawan domestik dan mancanegara, wartawan dan hobiis fotografi, bahkan peminat fashion.

Dinan Fariz, Presiden JFC mengatakan, kegiatan yang dilakukan komunitas remaja ini bertujuan mewujudkan impian menjadikan Jember sebagai Kota Karnaval Fashion Dunia. Juga pada akhirnya dapat meningkatkan perekonomian rakyat banyak khususnya di sektor industri kreatif.

naskah : m. ridloi | foto : wt atmojo