Sehari menjelang puncak pelaksanaan Jember Fashion Carnival 2015, warga dan wisatawan Kabupaten Jember disuguhi aksi anggota DPD Asosiasi Karnaval Indonesia (AKARI), Sabtu (29/8). Karnaval AKARI ini melibatkan tak kurang dari 300 talent yang datang langsung dari DI Aceh, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara, Kalimantan Timur, Bali, Bangka, dan Kepulauan Riau.

Masing-masing DPD menyuguhkan kreasi busana yang dikembangkan dari baju tradisional. Selebihnya ditambah aksesoris warna-warni dan sentuhan modern kontemporer, tak berbeda dengan gaya busana yang disuguhkan Jember Fashion Carnival.

Tahun ini, pelaksanaan JFC terbilang cukup ketat. Menjelang digelar, sejumlah ruas jalan di sekitar alun-alun ditutup pagar. Puluhan crew keamanan dilibatkan. “Untuk antisipasi saja. Biar penonton tidak mengganggu peserta dan penonton JFC yang lain,” jelas salah satu petugas pada eastjavatraveler.com.

Dalam penjagaan yang cukup ketat, acara ternyata berjalan relatif lancar. Pengunjung yang terdiri dari warga kota dan luar Jember mengaku sangat puas pada pelaksanaan JFC 2015.

“Hampir setiap tahun saya datang melihat JFC. Saya booking kamar hotel sejak tiga hari yang lalu. Sekalian jalan-jalan bareng keluarga,” kata Nugraha (44), warga Kota Malang.

Dari pantauan eastjavatraveler.com, JFC memang jadi momen yang ditunggu warga. Baik yang tinggal di dalam maupun luar Jember. Bagi warga Jember, JFC adalah kebanggaan. Meski tahun ini membuat mereka tidak bisa leluasa dalam menikmati JFC, namun mereka paham, ini demi kebaikan JFC dan Jember sendiri.

“Yang kami tahu, pengunjung makin banyak. Jadi ya nggak masalah dikasih pagar. Lihat karnaval nggak bisa dekat-dekat kayak dulu,” kata Andi (17) warga Jember. Remaja yang kini tercatat sebagai salah satu sekolah negeri di Jember ini mengaku, ia bangga dengan adanya JFC. “JFC tidak hanya dikenal di dalam Jember. Tapi sudah seluruh Indonesia bahkan dunia,” bangganya.

Di kalangan pelaku industri dan perdagangan, JFC juga memberi inspirasi tersendiri. Di Rumah Batik Rolla misalnya, JFC jadi motif khusus bersanding dengan motif tembakau. Iriane Chm Rolla, pemilik Rumah Batik Rolla mengaku, saat JFC penjualan batik bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. “Dalam sehari batik saya bisa terjual 50 kain. Apalagi yang motif JFC,” katanya.

naskah : hendro d. laksono
foto : mamuk ismuntoro
foto selengkapnya klik indonesiaimages.net