Tak terasa, Bulan Ramadhan yang dinanti kini sudah kembali. Dengan semangat suka cita, umat muslim di seluruh dunia kembali merayakannya. Pada bulan ini tempat-tempat beribadah seperti masjid, semakin ramai dikunjungi. Selain sebagai tempat shalat dan mengaji, masjid sering digunakan sebagi tempat i’tikaf (berdiam diri di masjid untuk memohon ampun kepada Allah).

Tak heran jika semua masjid diseluruh penjuru Indonesia mulai diperbaiki dan dibersihkan. Hal ini semata-mata dilakukan untuk kenyamanan para jamaah saat melakukan ibadah bersama.

Hal serupa terlihat di Masjid Rahmat Surabaya beberapa hari yang lalu. Persiapan ini dilakukan mengingat masjid Rahmat berbeda dengan masjid lainnya. Iya, perbedaan itu terletak pada bangunannya yang sudah berdiri sejak lama alias tua.

Seperti yang dikutip dari wisatajawatimuran.com, Konon Masjid Rahmat ditemukan secara tiba-tiba oleh seorang penduduk yang sedang merambah hutan. Saat ditemukan berupa sebuah tempat yang beralaskan batu bata yang ditata rapi dengan letaknya lebih tinggi dari sekitarnya, dan ditiap sudutnya terdapat empat buah tiang yang menyangga sebuah atap yang terbuat dari daun tebu (welit = Jawa).

Tempat itu telah dibangun oleh Sunan Ampel, diatas sebidang tanah di daerah Utara Surabaya yang disebut Ampel Denta, sebuah hadiah dari paman Sunan Ampel yaitu Prabu Brawijaya.

Hal ini dibenarkan oleh takmir Masjid Rahmat, Ach. Muriadi saat bertemu dengan eastjavatraveler.com di kantor masjid. “Masjid ini istimewa, peninggalan Sunan Ampel. Saat masih muda, beliau sering main di daerah ini,” kisah laki-laki berkacamata ini.

Sekalipun beberapa aksen historisnya sudah direnovasi pada tahun 1967, masjid yang terletak di Jalan Kembang Kuning no 79-81 ini, masih terlihat megah.

Oleh karena peninggalan salah satu wali dan tingginya nilai historis masjid, tak heran jika banyak orang berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. Ditambah lagi, lokasi masjid yang tidak jauh dari makam Mbah Wiroseroyo atau Mbah Karimah, mertua dari Sunan Ampel yang sering dikunjungi para peziarah.

“Jamaah yang datang tidak hanya dari Surabaya dan sekitarnya, tetapi juga dari luar kota. Dari Tuban, Semarang, bahkan Sulawesi dan Kalimantan,” terang Muriadi.

masjid rahmat02Sebagai masjid agung dikawasan Kembang Kuning, Masjid Rahmat memiliki peran besar. Saat Bulan Ramadhan seperti ini, beberapa kegiatan keagamaan telah dijadwalkan. Diantaranya adalah buka puasa, tadarus (melantunkan ayat Al-Qur’an), dan ngaji kitab sesudah waktu Shubuh dan Ashar.

Untuk kegiatan buka puasa nanti, pihak pengelola masjid dan masyarakat sekitar akan menyediakan 600 nasi bungkus untuk para jamaah. Diakui Muriadi, nasi bungkus ini disediakan selama Bulan Ramadhan dan selalu begitu setiap tahunnya. “Biasanya ada sumbangan dari warga sekitar yang ingin sedekah, misalnya dari warga ada 200 bungkus, nanti pihak masjid nambah 400. Pokoknya jumlahnya harus 600.” Tutur pria berpakaian serba putih ini.

naskah : pipit maulidiya | foto : rangga yudhistira