Banyak cara untuk menyambut datangnya tanggal 15 dalam kalender Jawa di setiap bulan, yang biasa kita saksikan bulan purnama. Salah satunya yang dilakukan warga Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jum’at (24/09) malam di Pendopo Candi Wringin Lawang. Mereka menggelar Festival Bulan Purnama Majapahit.

“Dahulu di era kerajaan Majapahit datangnya bulan purnama dilakukan banyak ritual. Misal saja, menggelar rapat akbar, mengasah ilmu pencak, mengadakan kegiatan budaya, dan masih banyak lagi,” ujar Affandi Abdul Hadi, Kepala Dinas Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto.

Karenanya, sebagai generasi penerus kita harus menjunjung tinggi dan berupaya melestarikan nilai-nilai tradisi yang telah ada sejak jaman nenek moyang kita. Seperti halnya yang ada di Kabupaten Mojokerto, bahwa setiap bulan purnama kerap diadakan Festival Bulan Purnama. Harapannya, budaya yang telah dimiliki bangsa ini tidak lekang tergerus perkembangan jaman, dan kelak dapat terus digali oleh generasi penerus bangsa.

Sementara Eko Edi Susanto, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto menjelaskan, pada peringatan bulan purnama di September ini mengambil tema Seni Sebagai Kebangkitan untuk Rasa Nasionalisme dan Patriotisme. “Sehingga acara seperti ini dapat dijadikan momentum untuk memberikan ruang berekspresi bagi seniman-seniman muda di Mojokerto,” tegasnya.

Pertunjukan acara ini dimeriahkan dengan orasi budaya oleh Aman Sugandhi, Manager Operasional AREK TV Surabaya, Pentas seni bantengan Panji Siliwangi SMAN 1 Gondang Kabupaten Mojokerto, Mocopat Among Tani, Cokek’ an, dan masih banyak lagi seni pertunjukan menarik lainnya. Seperti atraksi kekebalan perguruan Pencak Silat Panji Siliwangi, yang memeragakan menusuk pedang di leher salah satu anggota pencak.

(naskah/foto:mridlo’i)