Kawasan wisata religi di Jawa Timur terus tumbuh. Baik yang ada di Surabaya, Gresik, Lamongan, Jombang, hingga Tuban. Dari data yang ada, pengunjung rata-rata datang untuk mendoakan mereka yang sudah berjasa menyiarkan Islam di tanah Jawa. Sebagian lagi adalah anak keturunan para pengikut sunan dan wali. Dan selebihnya adalah kelompok kajian sejarah, khususnya sejarah Islam, komunitas foto dan video, dan pelajar.

Di Kabupaten Tuban misalnya. Pengunjung yang datang ke Masjid Agung Tuban, Masjid Ashabul Kahfi Perut Bumi Al- Maghribi, Makam Sunan Bonang, Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi, Makam Sunan Bejagung Lor, Makam Sunan Bejagung Kidul, Makam Syech Achmad Cholil, Makam Sunan Geseng, hingga Makam Syeh Subakir, terus meningkat dari waktu ke waktu. Mereka datang bersama rombongan, keluarga, ada juga yang datang sendiri.

Kabupaten Tuban sebagai kawasan yang berlokasi di pesisir pantai utara, memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Berhubungan dengan sejarah perdagangan internasional, kejayaan kerajaan pesisir, atau sejarah peradaban dan perkembangan Islam.

Kabupaten dengan jumlah penduduk 1,2 juta jiwa ini memiliki 20 kecamatan. Posisinya yang strategis, berada di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan dilintasi oleh Jalan Nasional Daendels di Pantai Utara, memperkuat imaji Tuban sebagai kawasan bersejarah. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Rembang di sebelah barat, Lamongan di sebelah timur, dan Bojonegoro di sebelah selatan.

Dulu, Tuban dikenal sebagai pelabuhan utama Kerajaan Majapahit dan menjadi salah satu pusat penyebaran Agama Islam oleh para Walisongo. Ini yang kemudian jadi alasan, kabupaten berluas 183.994.561 Ha ini memiliki banyak bangunan dan makam bersejarah. Sebagian adalah bangunan dan makam yang sudah teridentifikasi dengan baik, sebagian lagi adalah bangunan dan makam yang terpelihara karena mitos dan kepercayaan yang berkembang dari mulut ke mulut.

Satu di antaranya adalah Makam Keramat Sunan Santri yang terletak Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Sunan Santri adalah sebutan yang diberikan kepada mereka yang terpilih menjadi murid atau santri para sunan. Konon, dalam banyak hal, pemikiran dan sikap mereka dinilai mendekati para sunan.

Sunan Santri juga digunakan sebagai sebutan untuk mereka yang kelak akan menggantikan tugas sunan, khususnya dalam menyiarkan agama dan semangat kebajikan di kalangan masyarakat.

Mengutip buku ‘Tuban Bumi Wali, The Spirit of Harmony’ yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, tokoh yang dimakamkan di sini adalah Kiai Muhamad Hasan bin Kiai Muhamad. Di buku ini disebutkan, ia juga dikenal dengan julukan Ki Lele. Meski namanya memiliki kesamaan dengan nama sebuah jalan di Lidan, Kembangbilo, Tuban, masyarakat Desa Tegalagung percaya jika keduanya sama sekali tidak memiliki hubungan.

Seperti dikatakan Mbah Wasis, 70 tahun, sesepuh Dusun Tegal Santri, Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, sosok Sunan Santri yang dimakamkan di tempat ini memang misterius. Ia bahkan pernah mencoba mencari tahu sejarah Sunan Santri Tegalagung, baik dengan jalan normal hingga spiritual. Hasilnya? Nihil.

“Tapi dari para sesepuh saya dulu, kami pernah mendengar banyak cerita. Salah satunya tentang sunan yang pernah datang ke Tegalagung. Konon, setelah perjalanan jauh, ia mampir ke desa sebelah untuk minta minum. Entah mengapa ia tidak diberi minum. Lalu berbelok ke Desa Tegalagung,” cerita Mbah Wasis.

Di Tegalagung, sunan yang tidak diketahui namanya ini diberi minum oleh warga. Karena merasa sudah ditolong, Sang Sunan berdiri dan menancapkan tongkatnya di sebidang tanah. Tak lama kemudian, secara ajaib ada aliran air mengalir.

“Tempat itu jadi sumur. Sampai sekarang masih ada,” kata Mbah Wasis yang baru-baru ini mewakafkan tanah seluas 1 hektar untuk pengembangan pondok pesantren.

Sebagai sesepuh desa, Mbah Wasis menjadi satu-satunya orang yang cukup memahami sejarah dusun dan desanya, termasuk keberadaan Makam Keramat Sunan Santri. Sejak kecil ia bahkan sudah diajak melihat sebuah batu tiban, sebutan untuk batu yang jatuh dari langit, yang hingga kini tersimpan di Pondok Pesantren Ikhwanus Shafa. Layaknya warga desa yang lain, batu ini dianggap memiliki kekuatan yang tak biasa. Karenanya beberapa orang bahkan menyebut batu tiban ini sebagai batu ajaib.

“Sempat dipindah, tiba-tiba balik ke tempat asal. Pernah mau dipindah lagi. Bahkan pakai buldozer, malah tungkai buldozernya mau patah,” kata Mbah Wasis.

Di sekitar Makam Keramat Mbah Santri, cerita dan mitos yang tumbuh juga cukup kuat. Di antaranya keberadaan sebuah pohon ghaib yang tidak bisa dilihat secara kasat mata. Tapi oleh para nelayan yang berlayar di laut lepas sering digunakan sebagai mercusuar atau penunjuk arah menuju jalan pulang.

Itu sebabnya, Makam Keramat Sunan Santri selalu dikunjungi para nelayan. Selain untuk berterima kasih karena sudah dibantu pulang, juga untuk berburu berkah agar ikan hasil tangkapan bisa menjulang.

Sebuah Gagasan

Menurut Rodo, 80 tahun, juru kunci Makam Keramat Sunan Santri, makam ini sebenarnya tak pernah sepi pengunjung. Meski jumlahnya masih jauh dari makam suci lain yang ada di Tuban. Menurut Rodo, pengunjung biasanya datang pada hari Kamis Pahing. Mereka yang datang adalah masyarakat Tuban dan sekitarnya. Sesekali, ada juga yang datang dari luar Tuban.

Halaman makam ini pernah mendapat bantuan penghijauan dari TNI. Berupa penanaman pohon dan pembersihan semak belukar. Kini, halaman Makam Keramat Sunan Santri memang nampak lebih bersih dan hijau.

Rodo mengatakan, ia tak pernah mengenal sosok yang dimakamkan di tempat ini. Tapi ia yakin, orang yang dimakamkan itu sosok yang memiliki aura agung. “Beberapa kali saya dibangunkan saat tidur. Orangnya tinggi besar, berjubah putih, wajahnya bersih,” kata Rodo.

Sama seperti Rodo, warga Dusun Tegal Santri, Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding, rata-rata berharap agar makam keramat ini bisa berkembang menjadi sebuah kawasan wisata religi. Karena dalam perjalanannya, makam ini juga tumbuh menjadi tempat berkumpul warga. Misal acara manganan setahun sekali. Dalam acara manganan ini warga dusun berkumpul membawa makanan sendiri, lalu makan bersama dalam suasana yang guyub dan rukun.

Beberapa sumber di tempat ini juga mengaku, Makam Keramat Sunan Santri bisa digunakan sebagai sentra ekonomi alternatif bagi warga. Misal dengan membangun kawasan kuliner, sentra cinderamata, pusat kajian Islam, panggung seni budaya, dan masih banyak lagi.

Jika gagasan ini terealisasi, Kawasan Wisata Religi Makam Keramat Sunan Santri akan melengkapi rangkaian Segitiga Emas Wisata Religi Kabupaten Tuban. Karena dari Surabaya ke Tuban, pengunjung akan bertemu Makam Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi di Rembes, Gesikharjo, Palang, Tuban. Lalu Makam Sunan Bonang yang terletak tak jauh dari Masjid Agung Tuban. Berikutnya di Kecamatan Semanding, di Makam Keramat Sunan Santri. (naskah dan foto : hendro d. laksono)