Mulai pelosok desa, kota hingga seantero dunia Siapa yang tak kenal dengan kebesaran nama Soekarno. Dialah presiden pertama sekaligus Proklamator Indonesia dalam membawa bangsa ini bebas dari penjajahan kolonial pada masa itu. Bicara tentang jejak Soekarno cukup banyak, salah satunya adalah yang ada di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Soekarno lahir 06 Juni 1901 di Surabaya dari pasangan Sukemi Sosrodihardjo (seorang guru) dan Ida Ayu Nyoman Rai (bangsawan Bali). Awalnya Soekarno bernama lengkap Koesnososro Soekarno, tetapi karena sering sakit waktu kecil, kemudian dipanggil Soekarno saja. Pada masa kecil, kemudian Soekarno dibesarkan orang tuanya di Kota Blitar, tepatnya di Kelurahan Gebang, tepatnya di Jalan Sultan Agung 56.

Rumah masa kecil Soekarno ini dapat kita lihat berdiri dengan gaya arsitektural kolonial, dengan hiasan warna putih hijau pada dinding dan pilar-pilarnya itu kini dikelola oleh ahli waris keluarga Soekarno. Ruang dalam yang ada di Istana Gebang terdiri atas lima kamar tidur, enam kamar mandi, satu dapur, dua garasi mobil, satu gudang, serta ruang khusus untuk balai seni. Mengikuti langkah kaki masuk ke ruang tamu rumah ini kita akan terbawa dalam atmosfer masa lalu Soekarno semasa kecil. Terlihat dari dengan adanya meja dan kursi rotan, serta mata melempar pandang di dinding ruangan dapat menangkap beragam koleksi lukisan dan foto-foto Soekarno dan keluarga besarnya.

Tak berhenti di situ, masih banyak koleksi yang terdokumen di dalam Istana Gebang. Seperti beberapa benda pusaka milik Sang Putra Fajar dan sebuah Mobil Mercedes Benz 190 warna hitam di garasi. Konon, mobil ini dulu sering digunakan Soekarno saat tinggal di Blitar. Juga terdapat kamar tidur Soekarno (Bung Karno).

Tapak tilas Soekarno tidak berhenti di Istana Gebang saja sebagai kediamannya saat kecil. Lanjut menuju ke 1 kilometer arah utara dari Istana Gebang, dapat mengunjungi Makam Presiden pertama RI ini. Yakni berada di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar.
Makam ini didominan oleh arsitektur Joglo. Bergaya Jawa Timuran dan dikombinasi dengan gerbang Candi Bentar.

Selain bangunan utama yang berupa cungkup makam Bung Karno, kompleks makam ini juga dilengkapi dengan beberapa bangunan pendukung, yakni Gapura Agung, Masjid dan Bangsal; yang dapat membuat para pengunjung betah untuk berziarah di lokasi ini. Ada juga bangunan pelengkap yang terdiri rumah pengurus makam, tempat peristirahatan umum, halaman parkir, dan pertamanan. Dari informasi pengelola makam tiap tahun pengunjung yang datang jumlahnya dapat mencapai ribuan, baik itu wisatawan dalam negeri maupun wisatawan luar negeri.

Kebesaran nama Soekarno telah mengundang banyak turis untuk berziarah ke makam ini. Mereka merasa kagum dengan kebesaran presiden Soekarno, sehingga mereka berdo’a di makam ini untuk mendapatkan berkah. Selain kita berziarah, pengunjung juga dapat menggali wawasan sejarah seputar sosok Soekarno. Yakni dengan adanya sebuah perpustakaan Soekarno lengkap dengan mini museum. Komplek ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WIB dan terbuka untuk umum.

Beberapa buku koleksi Soekarno yang langkah juga tersedia, namun, buku-buku tersebut hanya boleh dibaca ditempat. “Koleksi perpustakaan saat ini sudah mencapai 120 ribu eksemplar yang terdiri dari buku umum, referensi dan termasuk koleksi Soekarno,” ujar Aji Subekti salah satu petugas UPTD Perpustakaan Bung Karno.

 

Untuk museumnya, diapajang beberapa peninggalan Soekarno. Seperti foto-foto keluarga Bung Karno dan foto perjalanannya ketika menjadi Presiden, ada juga jas yang biasa digunakan saat melawat di dalam maupun luar negeri, dan bendera merah-putih pertama buatan Fatmawati (istri Bung Karno) yang dikibarkan di Rengasdengklok pada 16 agustus 1945 silam.

Makam Soekarno ramai dikunjungi ketika peringatan haul (peringatan wafatnya) Bung Karno yang biasanya digelar mulai 19 sampai 21 Juni. Pada momentum wafatnya Soekarno ini juga ditandai dengan berbagai pertunjukan kesenian yang biasanya diselenggarakan di Istana Gebang.

Dan, hingga kini sesuai dengan julukan Sang Putra Fajar, Bung Karno telah membuka matanya melihat terang benderang dunia saat fajar menyising, tatkala sebagian dari kita masih terlelap menutup mata. Dunia versi Bung Karno adalah dunia yang mutlak harus berubah menjadi tempat yang lebih adil dan setara bagi semua. Kita pernah beruntung memiliki seorang duta bangsa, yang sekaligus juga seorang diplomat terulung yang pernah dimiliki Indonesia.

naskah : moh. ridloi | foto : frannoto