Mungkin banyak yang tidak tahu di Jalan Gajah Mada, Kauman, Sidoarjo lah titik pusat jantung Kota Udang ini berada. Selama ini orang mengetahui keberadaan Alun-alun kota yang berdekatan dengan pusat kantor pemerintahan dan Masjid Agung Sidoarjo adalah pusat jantung Kota Sidoarjo.

Petanda jika di Jalan Gajah Mada, Kauman, adalah pusat kota tak lain dengan keberadaan Masjid Jami’ Al Abror, Pasar Tradisional Jetis dan Kampung Batik Jetis Kauman yang di dalamnya terdapat banyak bangunan-bangunan kuno bergaya kolonial.

Masjid Al Abror telah mengalami beberapa kali renovasi ini tercatat sebagai masjid tertua di kota Delta. pada 1678 ini hanya berupa masjid tiban. Yakni, masjid yang sudah ada kerangka pondasinya tetapi belum ada bangunannya.
Kemudian, oleh ulama dari Mataraman, Mbah Mulyadi, yang menurut cerita adalah pengikut Pangeran Diponegoro, kerangka masjid itupun dibangun. “Mbah Mulyadi dibantu oleh Mbah Sayyid Salim, Mbah Muso, dan Mbah Badriyah,” ujar H. Zainun, Takmir Masjid Al Abror pada Eastjavatraveler.com.

kisah pendirian Masjid Al Abror erat kaitannya dengan sejarah berdirinya Kabupaten Sidoarjo yang awalnya masih bernama Kadipaten Sidokare. Masjid yang terletak di timur sungai Jetis ini mengalami pemugaran pada 1.859 yang dilakukan oleh bupati pertama Sidokare, R Notopuro (RTP Tjokro negoro).

Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Panggabahan (kini Gabahan).

Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi kembali menjadi dua bagian, yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Sidokare (yang kini adalah Kabupaten Sidoarjo) dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare, yang memiliki konotasi kurang bagus diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo.

Di kawasan Jalan Gajah Mada ini juga petanda kuat jika sebagai pusat pemerintahan masa lalu adalah dengan keberadaan Pasar Jetis. “Pasar ini merupakan pasar lama tempat pertemuan warga Sidoarjo dengan luar daerah, yang saat itu melalui rute transportasi Sungai Porong. Masjid, kuburan, dan rumah-rumah lama menandakan ketuaan kampung ini,” ujar Henri Nur Cahyo, Penulis Buku Sidoarjo Tempo Doeloe.

Di tambah lagi keberadaan toko-toko yang banyak berdiri di Jalan Gajah Mada, membuktikan kuat jika pusat perekonomian telah berlangsung sejak lama di kawasan ini.

Pada perkembangan terbaru, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo akan mengembalikan dan memperkuat Sidoarjo Tempo Dulu di seluruh kawasan Jalan Gajah Mada. H. Saiful Ilah, Bupati Sidoarjo, dalam sebuah kesempatan menjelaskan, jika mulai tahun 2014 kawasan Jalan Gajah Mada akan digarap sebagai kawasan Sidoarjo Tempo Dulu.

“Bahkan untuk melengkapi kebutuhan warga, di komplek bangunan Matahari Mall yang per November 2013 kontraknya berakhir akan dibangun food market, pasar tradisional yang nyaman serta bersih, bangunan-bangunan tua akan lebih dipercantik, pertunjukan seni budaya, dan tentu juga lebih menonjolkan pusat kerajinan batik Jetis yang letaknya juga di kawasan ini,” papar Saiful Ilah.

naskah/foto : mridlo’i