Jika ditanyakan kepada masyarakat Madiun, apa yang menjadi ikon dari kota seluas 33,23 kilometer persegi ini selain Brem. Maka dengan serempak mereka akan menjawab, Pabrik INKA!

Percikan bunga-bunga api dan bebunyian lempeng baja yang timbul dari sebuah alat pukul, senantiasa mewarnai setiap sudut ruangan. Belum lagi lengkap dengan balada pekerja memakai pelindung kepala yang lalu lalang.

Mereka melakukan aktifitas sesuai bidang masing-masing. Ada yang asyik mengutak-atik komponen listrik, mengelas, ada juga yang sibuk melakukan pengecatan.

Di luar ruangan, kita dapat melihat sebuah miniatur lokomotif dari masa lampau, lalu di dalam ruangan melihat aktifitas desain kereta. Di sini, kita bisa melihat beberapa teknologi railcars yang sedang dikembangkan. Seperti diesel electrical railcars atau diesel hydraulic railcars.

Selesai melihat miniatur kereta dan ruang desain, perjalanan lalu berbelok ke sisi belakang, tepatnya di Gedung Pemasangan Komponen III.

Pemandangan itu sudah biasa kita temui dalam keseharian di sebuah pabrik yang berada di Jalan Yos Sudarso No. 71, Madiun. Ya, di dalam pabrik itulah terdapat produksi gerbong kereta, baik penumpang maupun barang, dan juga lokomotif untuk kebutuhan dalam dan luar negeri.

Pabrik kereta yang berdiri di atas lahan seluas 22,5 hektar itu adalah bernama PT INKA. Selain menempati kantor pusat di Madiun ini, untuk urusan lain-lain, PT INKA juga menggunakan kantor perwakilan di Gedung Artaloka, Jl Jendral Sudirman di Jakarta, dan di Jl Tubagus Ismail, Bandung.

Sejak perusahaan ini berdiri pada 29 Agustus 1981 hingga sekarang, telah berhasil mencoba eksis dan berkembang sebagai sebuah Industri Kereta Api terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Mimpi pun jadi kenyataan. Untuk melepas ketergantungan dari pihak luar negeri. Yang mana dulu pemerintah Indonesia dalam hal pengadaan kereta api selalu mengimpor. Tapi kini semua berbalik, dan mereka (pihak luar) malah mengimpor dari Indonesia, yaitu bahan garapan PT INKA.

”Sejak tahun 1986 pesanan datang dari berbagai negara. Antara lain Bangladesh, Malaysia, Thailand, Australia, Philipina, dan masih banyak lainnya,” kata Fathor Rasyid, Kepala Divisi Humas PT INKA Madiun pada EastJava Traveler.

Mendengar keterangan dari Fathor Rasyid. Dedik, salah seorang staf humas berceletuk. “Lebih membanggakan lagi prestasi ini buah upaya keras dan keberadaan industri ini ada di Kota Madiun,” ujarnya bangga.

Perlahan tapi pasti, PT INKA berjalan dan mengepakkan sayapnya hingga mendapat sertifikat ISO 9001 versi 2000, dari ABS Quality Service. Buah keberadaan PT INKA memang sepatutnya dijadikan kebanggaan. Karena sejak tahun 1977 berbagai pembahasan dan penelitian telah dilakukan, untuk mengetahui adanya kemungkinan didirikan pabrik kereta di Indonesia. Alhasil, pada 18 Mei 1981 akta notaris PT INKA pun rampung. Lalu, pada 29 Agustus 1981 disepakati sebagai HUT PT INKA.

Tahun 1982 PT INKA mengawali proses produksi. Sekitar 400 gerbang dihasilkan. Mulai dari gerbang barang, berbagai jenis dari gerbang Pusri (Pupuk Sriwijaya), dan gerbang tangki.

Setelah itu pada tahun 1984 hingga 1986, industri ini mampu memproduksi gerbang penumpang. Yang akhirnya pemesanan pun datang dari mana-mana. Lalu di tahun 1989 PT INKA berhasil menjadi Holding Company. Dan, masuk dalam kategori 10 industri strategis atau BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis).

Kini PT INKA mampu menetapkan kapasitas produksi pertahunan. Antara lain, sebanyak 120 kereta penumpang, 300 gerbang barang, 40 kereta listrik, lalu sebanyak 200 busway. ”Itu adalah kapasitas pertahunan yang kami hasilkan. Belum lagi pas ada order,” tambah Fathor Rasyid.

Wisata Minat Khusus
Siapa sangka meski berdiri sebagai perusahaan industri berkembang, dengan penuh segala aktifitas produksi. PT INKA juga membuka lebar-lebar bagi masyarkat luas, baik domestik maupun mancanegara untuk datang melihat langsung pemandangan tak biasa di pabrik kereta.

Program wisata khusus yang diterapkan di PT INKA ini, menurut Fathor Rasyid, Kepala Humas PT INKA, sebenarnya sudah diterapkan sejak tahun 1990-an. Bahkan di awal berdirinya, banyak wisatawan dari luar negeri yang sudah datang untuk ngintip dapur pabrik kereta api ini.

“Kebanyakan dari Belanda. Kebetulan, gedung yang digunakan PT INKA ini berasal dari pengalihan aset Balai Yasa,” kata Fathor. Setelah lokomotif uap sudah tidak digunakan pada tahun 1977, sumber daya manusia dan fasilitas yang ada dimanfaatkan untuk pembuatan prototipe gerbong barang.

Jadi, kedatangan bule-bule Belanda ini kebanyakan untuk keperluan nostalgia saja. Mereka datang untuk melihat eks Balai Yasa di Madiun yang pada jaman pemerintahan Belanda, yang pernah digunakan sebagai bengkel lokomotif uap.

Sedang pengunjung lain, sebagian besar datang dari akademisi, baik mahasiswa, pengajar, atau staf peneliti dari perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta semata untuk study tour. Dari catatan Fathor, mereka yang sudah pernah berkunjung datang dari Surabaya, Bandung, Jakarta, bahkan Kalimantan dan Sumatra. Sedangkan dari wisatawan mancanegara datang dari Belanda, Belgia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Bangladesh, Malaysia, Jepang, Australia, Denmark, dan masih banyak lainnya.

“Kemudian, beberapa waktu lalu, PT INKA bersepakat dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Kota Madiun, sejak tahun 2005, PT INKA dinyatakan sebagai salah satu tempat wisata resmi di Madiun,” jelas Fathor.

Konsep wisata yang dibawa PT INKA adalah city tour. Jadi pengunjung diajak gabung dalam sebuah perjalanan di kawasan PT INKA, untuk lebih mengenal salah satu perusahaan yang begerak di bidang industri kereta api di dunia. “Jadi penekanan kita pada wisata khusus, atau lebih pas lagi, wisata ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegasnya.

Akan tetapi perlu jadi catatan. Untuk wisatawan atau peneliti yang hendak berkunjung ke pabrik kereta ini, diharapkan datang pada Senin sampai Kamis di saat jam kerja. Tentu lebih baik dengan mengajukan permohonan ijin terlebih dulu ke pihak kesekretariatan atau bagian humas PT INKA, Madiun.

naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo