Menapaki sebuah gang kecil dengan pemandangan bangunan tua berusia hampir 1 abad yang masih tetap utuh dan cantik. Suguhan itulah yang terasa saat menyusuri kawasan Kalimas Udik, Surabaya.

Tepatnya di kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan. Sebuah pemukiman yang syarat akan nilai historis pada zaman penjajahan Belanda. Kawasan Kalimas Udik yang dulu bernama Gang Gipo ini merupakan bukti sejarah peninggalan semasa lampau dengan arsitektur bangunan yang masih tetap terjaga hingga kini.

Arsitektural bangunan yang mengadopsi gaya Belanda bercampur Jawa dengan bentuk joglo halaman depannya yang khas, menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat wisata sejarah tempo dulu. Banyak sejarah yang dapat digali di sini, mulai dari gaya bangunan, kultur penduduk, dan peninggalan sejarah perjuangan Islam masa penjajahan Belanda.

Menurut sejarah, di kawasan ini adalah tempat bermusyawarah para tokoh perjuangan islam semasa tahun 1926, seperti KH Mas Mansur dari Muhammadiyah, H.O.S Tjokroaminoto dari Sarekat Islam dan H. Hasan Gipo ketua Tanfidziyah NU pertama yang lahir di kampung Sawahan (sekarang Kalimas Udik). Di kawasan inilah mereka melakukan musyawarah yang melahirkan wadah organisasi bagi para ulama yakni Nahdlatoel Oelama (NU). H. Hasan Gipo sendiri menurut buku Kharisma Ulama yang memuat sejarah 26 tokoh NU, beliau lahir di kawasan ini, digambarkan bahwa beliau berasal dari keturunan arab yang dulu menjadi saudagar kaya di kawasan Ampel, hingga wafat pada 1934 dan dimakamkan di komplek masjid Ampel.

Hingga kini, Kawasan Kalimas Udik banyak dihuni warga keturunan Arab yang sebagian besar berdagang di kawasan Ampel dan warga lokal. Sekelumit kisah sejarah yang melekat di kawasan Kalimas Udik merupakan hal yang patut dipelajari. Dari sanalah awal mula kawasan Surabaya khususnya di daerah Ampel menjadi kawasan pusat perjuangan Islam pada masa penjajahan, termasuk dengan masjid Ampel dan makam Sunan Ampelnya, hingga kini ditetapkan sebagai kawasan wisata religi Islam. -naskah/foto:frannoto