Ribuan orang mendekat ingin tahu. Melihat dengan mata kepala sendiri, sebuah ritual paling populer di Bromo, Yadnya Kasada.

Hari baru berganti. Namun kawasan Gunung Bromo seperti tak kenal kata berhenti. Orang-orang berjejal mendaki, lalu mendekat ke bibir kawah Bromo. Karena sesaat lagi, larung sejaji akan dimulai.

Beberapa pemburu sesaji yang sudah bersiap di lereng kawah sejak beberapa jam lalu berdiri dan mulai pasang kuda-kuda. Seolah tak ingin kehilangan peluang membawa pulang, sesaji yang dilempar ke arah kawah.

Ritual ini jelas menarik perhatian para pengunjung. Beberapa wisatawan bahkan ada yang datang khusus dari negeri seberang untuk melihat ini semua.

Ritual Senin (15/9) dini hari itu jadi puncak rangkaian Yadnya Kasada. Sebelumnya, Jumat (5/9) lalu, masyarakat Desa Ngadisari, Sukapura, memulai ritual pertamanya dengan nanjep karya atau gotong royong membersihkan Pura Luhur Poten di lautan pasir Gunung Bromo, telah digelar. Seminggu kemudian, Jumat (12/9), pemasangan lampu penjor, umbul-umbul, dan perlengkapan desa.

Selanjutnya, Sabtu (13/9), dilaksanakan mendhak tirta atau mengambil air dari Widodaren. Tahap ini lansung dilanjutkan dengan sepeninga atau sembahyang bersama dan makemit atau berjaga semalam menunggu air suci.

Tahapan-tahapan ini sedikit berbeda dengan yang terjadi di Desa Wonokitri. Selain kerja bakti gugur gunung selama dua hari, dari tanggal 9 – 10 September 2008, digelar pula sebuah ritual yang disebut dengan nama mepek. Upacara ini diadakan pada Minggu (14/9), sebagai proses minta izin pada Sang Hyang Widi Wasa.

Lalu keesokan harinya, di Wonokitri, dilaksanakan upacara Tayuban di Pakis Bincil di bibir kaldera Gunung Bromo.

Yadnya Kasada makin bergelora. Memasuki hari Minggu (14/9) malam, nasyarakat Hindu Tengger mengadakan resepsi bersama para pejabat daerah di Pendapa Agung Desa Ngadisari. Dan Senin (15/9) sekitar jam 01.00, seluruh umat Hindu Tengger bergerak menuju Pura Luhur Poten untuk menggelar doa suci bersama. Mereka datang dari empat pintu gerbang, Cemoro Lawang (Probolinggo), Dingklik Tosari (Pasuruan), Dandangan Senduro (Lumajang), dan Jemplang Poncokusumo (Malang).

Setelah proses persembahyangan, mereka langsung bergerak ke arah kawah dan mulai menjalankan prosesi nglabuh atau kurban suci ke kawah Gunung Bromo.

naskah dan foto : wt atmodjo