Masyarakat Tengger dari sejumlah desa di empat kabupaten, yakni Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Malang kembali melakukan ritual tahunan Yadnya Kasada di Gunung Bromo, dimulai Sabtu (09/08/2014) hingga puncak upacara Selasa (12/08/2014).

Upacara Yadnya Kasada, merupakan hari raya keagamaan warga suku Tengger. Kegiatannya berupa pemberian sesaji hasil bumi kepada Sang Hyang Widhi dan leluhur setiap hari ke-14, bulan Kasada, penanggalan Jawa. Sesaji ini kemudian oleh warga Tengger dilabuh ke kawah Gunung Bromo.

Puncak acara Yadya Kasada sendiri berlangsung Selasa dini hari di Poten, pura yang berada di tengah lautan pasir Bromo, Selasa dini hari. Diiringi tetabuhan beberapa instrumen gamelan, semua sesaji yang dikemas siap diarak menuju kawah Bromo untuk dilarung, setelah sebelumnya dilakukan pembacaan riwayat singkat sejarah Tengger dan wisuda dukun pandhita yang ada di beberapa desa.

”Semua warga Tengger pada prinsipnya diwajibkan untuk melarung hasil bumi,” ujar Romo Mangkutirto, salah satu dukun pandhita dari Ranu Pani, Senggoro, Lumajang.

Upcara Yadya Kasada berasal dari kisah legenda Rara Anteng yang merupakan salah satu putri Majapahit dan suaminya, Jaka Seger, yang merupakan putra Brahmana. Rara Anteng dan Jaka Seger yang memimpin permukiman di kawasan Tengger itu akhirnya memiliki 25 anak, tetapi tidak tega mengorbankan anaknya. Saat itu juga, anak ke-25 yang bernama Kusuma lenyap masuk ke kawah.

Pada saat yang sama, terdengar suara gaib yang diduga dari Kusuma. Ia mengatakan jika dirinya telah dikorbankan dan semua saudaranya telah diselamatkan Tuhan. Ia mengingatkan agar, setiap bulan Kasada pada hari ke-14, saudara-saudaranya mengadakan sesaji ke kawah Bromo. Nama Tengger merupakan akronim dari Rara Anteng dan Jaka Seger.

Berangkat dari kepercayaan kisah tersebut, dari dulu sampai sekarang warga Tengger di empat kabupaten terus berusaha melestarikan tradisi ritual Yadnya Kasada.

naskah|foto : budi irawan (indonesiaimages.net)