Selasa, 26 Mei kawasan perkampungan di Jalan Maspasti V Surabaya tak seperti biasanya, sejak pagi tampak puluhan stan jajanan hingga kerajinan berjejer rapi di sepanjang jalan. Dulunya, Maspati adalah perkampungan pada jaman keraton Surabaya, sebagai tempat tinggal para patih.

Kini, Maspati masih bertahan sebagai tempat permukiman penduduk yang masih bertahan dengan gaya arsitektur bangunan lawas (kuno). Tak banyak perkampungan lawas yang masih bertahan hingga kini, kebanyakan telah menjadi pusat perdagangan sampai dijadikan gedung perkantoran.

Mungkin tak banyak warga Surabaya yang mengetahui sejarah panjang pada zaman Keraton Mataram di Surabaya. Sedikitnya, masa itu terekam dan tersimpan rapi di kawasan kampung Maspati. Menyusuri jalan-jalan sempit di kawasan ini, bak menyusuri lorong waktu yang membawanya ke tempo dulu.

Masih banyak bangunan-bangunan tua asli Surabaya zaman dulu yang bisa dijumpai. Tengok saja kediaman tokoh kerajaan Surakarta, Raden Soemomiharjo yang oleh warga setempat familiar dipanggil “Ndoro Mantra”. Arsitektur bangunannya masih terjaga dan terawat hingga kini.

Selain itu, tak jauh dari bekas kediaman “Ndoro Mantra” berdiri kokoh rumah yang dibangun tahun 1907. Dulunya rumah ini dijadikan sebagai pabrik sepatu. Pelanggannya dari orang-orang Hindia-Belanda. Hingga perpindahan kekuasaan saat direbut oleh Jepang, pabrik ini masih bekembang dan dilanjutkan oleh warga pribumi. Sayangnya bangunan ini tak berfungsi seperti dulu lagi, akan tetapi warga tidak berniat mengubah dan membangun rumah ini. Dengan alasan menyimpan banyak sejarah sekaligus sebagai saksi perjuangan perang 10 November.

Lokasinya yang tak jauh dari Monumen Tugu Pahlawan, menjadikan kawasan ini sebagai perkampungan yang sarat akan sejarah perkembangan keraton di Surabaya. Sejenak, perlunya mengingat tentang pesan Bung Karno pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1966, dengan gaya pidatonya yang tegas dan lantang, Sang Proklamator berkata “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah)”. Kata-kata yang tak hanya untuk dikenang, namun untuk diwujudkan. Sebagai bangsa yang besar, hendaknya mampu menghargai sejarah sebagai kekayaan bangsa yang perlu diperhatikan dan dijaga kelestariannya.

Kiranya tak berlebihan, jika semangat Bung Karno ini lah yang coba diwujudkan oleh sekelompok warga di Jalan Maspati dengan tetap melestarikan peninggalan pendahulunya. Adalah Festival Kampung Lawas Maspati yang berupaya melestarikan dan sejarah Surabaya.

Melalui festival ini akan diperkenalkan suasana Surabaya tempo dulu dengan sajian berbagai bazar makanan, souvenir, lomba permainan tradisional dan hiburan lawas. Festival ini akan dilaksanakn selama satu hari penuh pada tanggal 26 Mei 2015 di jalan Maspati V dan VI Surabaya.

Kuliner khas asli Kota Pahlawan juga tersaji di sini, seperti kue Rangin, Semanggi hingga Arum Manis yang biasa dijajakan oleh pedagang dnegan memankan biola. Tak ketinggalan dolanan lawas (permainan tradisional) juga bisa dinikmati pengunjung, seperti permainan yang hampir ada di penjuru Nusantara, Engkle. Selain Bakiak, Dakon dan Nekeran.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini disela pembukaan Festival Kampung Lawas berjanji akan menjadikan kampung Maspati sebagai cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Bahkan perempuan yang akrab dipanggil Bu Risma ini mengatakan, “Saya akan mendesain sendiri kampung ini, dengan membangun jalan setapak yang dilengkapi dengan lampu pendestrian, harapannya agar kawasan ini menjadi kampung wisata yang mampu meningkatkan pendapatan ekonomi warga kampung”, ujarnya.

Lantas ia melanjutkan, “Karena kampung adalah bagian dari rumah termasuk juga jalannya, mari kita pertahankan terus kekayaan yang luar biasa ini, karena Surabaya kuat karena kampung”, tutupnya.

naskah dan foto : rangga yudhistira