Keanekaragaman hayati yang ada begitu memukau. Tak salah bila tempat ini tumbuh jadi wahana ekowisata andalan Kota Surabaya.

Dari beberapa penilitian diperoleh data kelayakan pengembangan wilayah di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya). Ditambah misi awal untuk mengembalikan hutan mangrove akibat penebangan liar. Hingga misi ini akhirnya berkembang menjadi konsep ekowisata. Konsep ekowisata Hutan Mangrove Wonorejo, disamping menjaga dan mengembalikan hutan mangrove, juga ada pendidikan, pelatihan dan pengelolaan hutan mangrove yang berkesinambungan.

Pengembangan ini berdasar pada kajian menyeluruh dari berbagai aspek mengenai kondisi Hutan Mangrove (hutan bakau) di Pamurbaya. Sehingga nantinya diperoleh informasi guna melandasi kebijakan pengelolaan dan pengembangan kawasan ini di masa mendatang.

Maka di atas lahan seluas seluas 871 hektar yang masuk wilayah Medokan Ayu, Gunung Anyar dan Wonorejo, terus dilakukan penghijauan berupa penanaman pohon mangrove. Serta ditambah dengan upaya pelestarian habitat satwa yang diketahui dapat tinggal di hutan mangrove.

Menurut informasi Ahmad Suwandi, sumber EastJava Traveler selaku Direktur program YAPPIKM (Yayasan Penguatan Partisipasi Inisiatif dan Kemitraan Masyarakat) menjelaskan, di dalam kawasan hutan mangrove terdapat jenis Flora, yakni 8 spesies mangrove di Wonorejo, 12 di Medokan Ayu, 9 di Gunung Anyar. Sebaran mangrove terkonsentrasi dan tersebar, sangat ideal bagi zonasi kawasan. Sedangkan untuk Fauna, yakni burung hingga sementara ini sudah didata ada sebanyak 137 spesies, serangga tercatat 53 spesies, mamalia tercatat 7 spesies, herpetofauna ada 10 spesies, ikan ada 18 spesies, dan crustaceae 7 spesies.

Mengetahui potensi keanekaragaman hayati yang ada pada kawasan ini, sehingga kemudian dikembangkan sebagai wilayah konservasi dengan bentuk kawasan lindung. Di dalam pengelolaannya di bawah naungan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bekerjasama dengan beberapa instansi serta LSM terkait.

Keberadaannya pun kelak diharapkan dapat mendukung prosentase keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Surabaya, mengakomodasi keberadaan sempadan sungai, kawasan pasang surut dan tanah timbul sebagai bagian dari kawasan konservasi. Nantinya memungkinkan keterlibatan unsur masyarakat, akademisi, swasta dan pemimpin informal di masyarakat sebagai pemangku kepentingan dalam pengelolaannya.

Terkait dengan potensi yang di dalam wilayah hutan mangrove Pamurbaya, dalam sebuah kesempatan Walikota Surabaya Bambang Dwi Hartono mengaku bangga dan tertantang untuk terus mengembangkan wilayah Pamurbaya. “Ini patut disyukuri, mudah-mudahan dengan pemeliharaan dan konservasi yang benar dan bagus, keberagaman spesies burung tersebut dapat terus lestari,” ujarnya.

Bambang DH juga mengatakan, jika kawasan ini dapat dikelola dan dikembangkan lebih baik lagi menjadi kawasan wisata keluarga yang tidak sekedar menikmati hutan mangrove saja, tetapi sekaligus mengenal berbagai jenis spesies mangrove, dan habitat satwa yang ada temasuk aneka spesies burung. Baik dari sisi ekowisata, riset, dan pendidikan lingkungan hidup harus ada. Khususnya bagi masyarakat umum.

Ekowisata Mangrove
Sejak diresmikan sebagai Wisata Mangrove Pamurbaya oleh Walikota Surabaya Bambang DH pada 1 Januari 2010 lalu, hutan mangrove langsung jadi serbuan para wisatawan dan peneliti.

Selain rasa penasaran dan keindahan alam yang dapat dirasakan, selama perjalanan pengunjung dapat memperoleh banyak pengalaman menarik dari sebuah penjelajahan wisata alam ini. Terutama pada sisi edukasi alam sesuai dengan konsep ekowisata yang diterapkan.

Wisata alam itu kini pengelolaannya dipegang Lembaga Ekowisata Wonorejo dan Forum Komunikasi Polisi Masyarakat (FKPM) Nirwana Eksekutif, Wonorejo, Kecamatan Rungkut.

Untuk bisa menikmati pemandangan hutan ekosistem hutan mangrove dapat dilakukan dengan dua cara, pertama dengan melewati jalur track atau jalan setapak yang dibuat oleh petani tambak setempat untuk menuju hutan mangrove. Kedua, menggunakan jalur pantai dengan perahu atau boat yang dapat disewa dari dermaga dekat Bozem Wonorejo.

Di perjalanan jalur pantai, selain bisa menikmati segarnya hawa pesisir, pengunjung bisa berkeliling menyusuri kawasan pantai berhutan bakau. Pengelola telah menyiapkan sebuah perahu motor berkapasitas maksimal 20 orang untuk mencapai lokasi hutan mangrove. Untuk pengamanan, pengelola juga menyediakan pelampung dan fasilitas wisata lainnya.

Perahu yang disewa-kan tersebut biasanya bergerak mulai dari dermaga Sungai Wonorejo menuju Selat Madura. Para pengunjung bisa menikmati rimbunnya hutan mangrove, burung-burung yang beterbangan dan hinggap di ranting-ranting pohon mangrove. Selain itu kita dapat mengetahui kekayaan alam yang ada.

Salah satu contoh yang ada di kawasan Pamurbaya juga terdapat Ekowisata Mangrove Wonorejo (EWM) yang menjual rehabilitasi, edukasi, dan rekreasi. Pengelola juga menyediakan sistem paket untuk jalur wisata. Yakni paket wisata lengkap dengan konsumsi.

Untuk makanan khas warga Desa Wonorejo, akan menyiapkan bandeng lempung, sirup yang terbuat dari buah mangrove dan berbagai aneka makanan dari buah mangrove. Bahkan juga disiapkan cinderamata berupa kerajinan batik dengan motif mangrove dengan berbagai corak yang menarik. Namun, bila Anda tak ingin memanfaatkan jasa paket, akan dikenai biaya naik perahu senilai Rp 20 ribu per orang dewasa dan Rp 10 ribu per anak-anak.

Akses mencapai lokasi cukup mudah dituju. Warga masyarakat harus menempuh jarak sekitar lima kilometer dari Jembatan MERR II-C yang ada di kawasan Pondok Nirwana atau Stikom Surabaya. Dari jembatan itu, pengunjung berjalan ke arah timur melewati IPH School, pangkalan taksi Orenz, hingga menemui penunjuk arah menuju Ekowisata Mangrove Wonorejo. Jarak tempuh dari titik itu hingga ke lokasi sekitar 3 kilometer.

Setelah mengikuti jalur itu, pengunjung akan menemui jalan makadam hingga menjumpai Boezem Wonorejo. Jalan itu dapat ditempuh dengan berbagai macam jenis kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil. Hanya saja, perlu jadi catatan jika musim hujan jalannya sulit dilalui. Karena masih belum dibuat jalan makadam dari akses itu. Sepanjang perjalanan Anda, akan merasakan nikmatnya pemandangan pepohonan dan danau tambak yang menghampar di kanan kiri kita lengkap sepoi angin menyapa.

Untuk mengetahui kekayaan alam di Hutan Mangrove Wonorejo, pengunjung harus menyusuri dengan menggunakan perahu. Selama berada di perahu, tamu akan dipandu pemandu wisata dari pemuda-pemudi karang taruna setempat. Dari dermaga Bozem Wonorejo, perjalanan perahu hingga sampai di tempat berlabuh di pos pantau hutan mangrove lama perjalanan adalah sekitar 20 menit.

Hanya saja lantaran Ekowisata Mangrove Wonorejo ini dibilang masih baru, tak salah bila saat kita berkunjung ke sana dapat dijumpai adanya beberapa kekurangan. Berupa sarana fasilitas pendukung bagi kenyamanan pengunjung. Seperti tersedianya dermaga yang layak untuk wisatawan, tempat duduk untuk menunggu perahu bersandar, mulusnya akses jalan, rest area, dan lahan parkir kendaraan yang teduh.

Sembari menunggu beberapa pembenahan di beberapa sektor lainnya, pihak pemerintah dalam hal ini melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya berupaya maksimal untuk gencar melakukan promosi. Dari hasil ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan ke Ekowisata Mangrove.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, pihaknya akan membantu pihak-pihak terkait yang ada di Kecamatan Rungkut selaku pengelola dan pemeliharan wisata mangrove, dukungan itu berupa promosi secara terus-menerus tentang ekowisata mangrove yang ada di wilayah ini.

“Kami akan mencoba mempromosikan wisata mangrove dengan menarik wisata kapal pesiar yang memang ada rute di Indonesia. Kami berupaya untuk memasukkannya ke Surabaya dengan akses jalur Pantai Timur Surabaya,” kata Wiwiek dalam sebuah kesempatan pada para wartawan.

Selain itu, kata Wiwiek, pihaknya juga akan melakukan promosi lainya di bidang seni dan budaya. Harapannya ke depan di wisata bakau tersebut akan sering diadakan kegiatan seni budaya sehingga bisa menarik pengunjung atau para wisatawan. “Tentunya promosi ini juga harus diimbangi dengan kegiatan seperti pengoptimalan dan penyediaan infrakstruktur lainnya,” tambahnya.

Pelepasan Kera
Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keseimbangan hayati dan minat wisatawan berkunjung Ekowisata Hutan Mangrove Pamurbaya. Selain dengan terus meningkatkan populasi mangrove, penjagaan spesies flora maupun fauna lainnya yang tinggal di sana. Juga ada sebuah upaya kepedulian lingkungan hidup, salah satunya dengan pelepasan kera di dalam hutan.

Habitat kera di dalam kawasan hutan mangrove Wonorejo sebenarnya sudah ada, tetapi populasinya dalam jumlah kecil. Kera yang ada adalah jenis kera laut atau kera berekor panjang. Maka, agar tidak punah, instansi di Kecamatan Rungkut beberapa waktu lalu melepas kera ekor panjang ke konservasi wisata hutan mangrove di Wonorejo.

Upaya ini juga mendapat dukungan dan perhatian dari Walikota Surabaya Bambang DH, dengan melakukan pelepasan kera ke hutan mangrove. “Kera yang kami lepas ini sudah jinak, jadi pengunjung tak perlu takut karena kera-kera itu mudah bersahabat dengan siapa saja,” ujar Bambang.

Terkait dengan upaya pelestarian di wilayah konservasi ini, Camat Rungkut Irvan Widiyanto berharap agar masayarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi wisata hutan mangrove, ikut menjaga dan melestarikan ekosistem kera maupun tanaman mangrove yang ada. Keberadaan hutan mangrove ini menyedot kedatangan 147 spesies burung.

Dari 84 spesies burung yang diketahui menetap di Pamurbaya, 12 spesies termasuk jenis yang dilindungi. Jenis burung tersebut tidak hanya burung air seperti kuntul perak, pecuk hitam, mandar padi, mandar batu, dan kowak malam, karena kawasan itu jadi tempat persinggahan ribuan burung migran setiap tahun. Ada 44 jenis burung migran yang singgah di Pamurbaya, terutama berasal dari Australia menuju Eropa.

m. ridloi | foto : wt atmojo