Sebagai ungkapan doa dan rasa syukur pada Sang Kuasa warga RW 8 di Kelurahan Morokrembangan, Surabaya, kemarin menggelar ritual desa, yang mereka sebut dengan tradisi Wedhus Kendhit yang diadakan setiap lima tahun sekali.

Tradisi ini mereka percaya dapat menjaga warga yang berada di kampung setempat selamat dari marabahaya, dan suatu saat diberikan rejeki yang melimpah. Acara ini sendiri berlangsung khidmat yang dihadiri oleh para sesepuh kampung. Untuk memulai acara, terlihat seorang pria lanjut usia menenteng seekor kambing yang masih terikat kepalanya. Kambing itulah yang akan dikorbankan dalam ritual wedhus kendhit ini.

Prosesi ritual ini diawali dengan pembacaan doa-doa yang dipimpin oleh seorang ulama kampung, Usai membacakan doa, sesepuh kampung yang membawa kambing tadi, langsung berjalan dan diikuti oleh warga yang lain, mengitari setiap sudut kampung.

Setelah selesai mengitari kampung setempat, seekor kambing itu langsung dibawa ke sebuah tempat (yang lokasinya masih di dalam kampung) untuk disembelih. Saat proses pengulitan kambing, empat kaki kambing dan kepala kambing yang dikorbankan ini, dipisahkan dari organ tubuh yang lain.

Menurut Kaspai, sesepuh kampung RW 8 Morokrembangan Surabaya, tradisi ritual wedhus kendhit dilakukan setiap lima tahun sekali. Ritual ini terkadang dapat digelar secara tiba-tiba, jika kampung Morokrembangan sedang ditimpa kesialan atau bencana.

“Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1921. Ketika itu, kampung Morokrembangan berada di lahan yang sekarang menjadi Kodikal. Warga terpaksa pindah kemari, karena kampung kami itu akan dibangun lapangan terbang milik Angkatan Laut,” tukas Kaspai pada eastjavatraveler.com.

Sedangkan kondisi kampung Morokrembangan yang sekarang ini, lanjut Kaspai jauh dari yang diharapkan. Daerah ini dulunya rawa-rawa dan alas sehingga warga harus membabat seluruh pohon yang ada dan melakukan pengurukan. Namun, pindah kampung tidak seenak yang dibayangkan warga. Masalah pun mulai timbul di warga Morokrembangan Surabaya.

Ketika warga mulai menempati tempat yang baru, wabah penyakit pun mulai menyerang warga. Penyakit yang diderita warga ketika itu adalah gatal-gatal. Dan itu dialami hampir semua warga kampung RW 8 Morokrembangan. Kemudian, Lurah Mbudro, Lurah pertama di Morokrembangan saat itu, melakukan koordinasi dengan Ngari dan Sumo, sesepuh kampung waktu itu. Kedua orang ini pun menjemput Kastari,seorang Kyai yang tinggal di Waru Sidoarjo. Atas petunjuk kyai Kastari, warga kampung harus melakukan ritual penyembelihan kambing untuk mengusir wabah itu dari kampung Morokrembangan.

Masih menurut cerita Kaspai, kambing yang akan dikorbankan tidak sembarangan. Kambing itu harus berwarna hitam di seluruh tubuhnya, namun ada warna putih yang melingkari perutnya, seakan-akan memakai sabuk. Dan kambing itu pun disebut wedhus kendhit.

Usai disembelih, empat kaki dan kepala wedhus kendhit harus dipisahkan dengan organ lainnya sebab, empat kaki dan kepala wedhus kendhit inilah yang menjadi sarat atau sesaji untuk kampung. Dua kaki depan wedhus kendhit, ditanam di batas kampung sisi depan, baik sisi kiri dan sisi kanan.

Dua kaki wedhus kendhit lainnya ditanam di pembatas kampung sisi belakang, baik kiri dan kanan. Sedangkan untuk kepala wedhus kendhit, ditanam di tengah-tengah kampung, dan harus menghadap ke Utara. Usai menanam keempat kaki dan kepala wedhus kendhit itu, daging wedhus kendhit kemudian dimasak beramai-ramai dan akhirnya bisa mereka nikmati bersama-sama.

Sementara menurut Fakih, Ketua RW 8 Morokrembangan Surabaya mengatakan saat ini warga RW 8 sedang ditimpa masalah, yakni dengan PT. Summitama Intinusa. Berdasarkan pembicaraan dengan sesepuh kampung, maka ritual wedhus kendhit sudah sepatutnya digelar, mengingat hingga saat ini masih ada warga yang menderita infeksi saluran pernafasan (ISPA) dan jumlahnya tidak sedikit.

“Warga RW. 8 saat ini sedang berjuang menuntut hak mereka ke PT. Summitama Intinusa, akibat polusi udara yang ditimbulkan oleh pabrik aspal ini. Sikap acuh tak acuh pemilik pabrik membuat warga Morokrembangan yang terkena ISPA menjadi geram,” papar Fakih.

Selain untuk mengusir wabah yang sedang terjadi di RW 8 Morokrembangan, digelarnya ritual wedhus kendhit ini juga bermakna untuk tetap menjaga rasa persaudaraan, serta kebersamaan antar warga dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi. (icu)