Tumpukan batu andesit yang tertata menjadi sebuah bangunan candi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi saksi estetika karya dari leluhur di negeri katulistiwa pada masa silam. Candi Singosari begitulah bangunan ini dinamakan. Ada pula yang mencatat namanya sebagai Candi Singhasari atau Candi Singasari.

Konon pada masanya, kawasan Candi Singosari adalah cukup luas. Yang tersisa dari keberadaannya arca dan bukti peninggalan lainnya berada berserak . Meskipun, bentuk bangunan candi yang ada sekarang masih dapat dipertahankan. Beberapa potongan relief dan arca dijajar rapi di sebelah Barat candi yang ada sekarang. Sementara di sebelah Utara juga tampak tumpukan batu yang disusun rapi. Candi ini baru mendapat perhatian pemerintah kolonial Hindia Belanda pada awal abad ke-20 dalam keadaan berantakan. Restorasi dan pemugaran dimulai tahun 1934 dan bentuk yang seperti sekarang merupakan hasil pemugaran pada tahun 1936.

Candi ini kerap jadi rujukan wisatawan maupun peneliti situs purbakala. Di samping itu alasan lain, wisatawan datang kemari adalah keasriannya. Dikelilingi pohon, hamparan rumput hijau yang ditata sedemikian rindang, hingga cukup nyaman untuk menjadi jujukan wisata minat khusus. Menurut Abdul Rochman, salah satu juru kunci Candi Singosari, di saat akhir pekan banyak wisatawan yang datang ke sini. “Ya masih ada saja yang datang kemari, ada pengunjung yang dari luar negeri, tetapi jumlahnya sudah tidak seperti beberapa masa lalu,” selorohnya.

Dari catatan sejarahnya candi ini merupakan candi Hindu – Buddha peninggalan dari Kerajaan Singhasari. Komplek Candi Singosari menempati areal seluas sekitar 200 m × 400 m. Di sisi barat laut komplek terdapat sepasang arca raksasa besar yang disebut sebagai Dwarapala memiliki tinggi hampir 4 m dengan posisi gada menghadap ke bawah. Hal ini menunjukkan meskipun penjaganya raksasa tetapi masih ada rasa kasih sayang terhadap semua mahkluk hidup dan ungkapan selamat datang bagi semuanya. Dan posisi arca ini hanya ada di Singosari, tidak ada di tempat ataupun kerajaan lainnya. Dan di dekatnya arca Dwarapala terdapat alun-alun.

Hal itu menimbulkan dugaan bahwa candi terletak di komplek pusat kerajaan. Letak candi Singosari yang dekat dengan kedua arca Dwarapala menjadi menarik ketika dikaitkan dengan ajaran Siwa yang mengatakan bahwa Dewa Siwa bersemayam di puncak Kailasa dalam wujud lingga, batas Timur terdapat gerbang dengan Ganesha atau Ganapati sebagai penjaganya, gerbang Barat dijaga oleh Kala dan Amungkala, gerbang Selatan dijaga oleh Resi Agastya, gerbang Utara dijaga oleh Batari Gori (atau Gaur?). Karena letak candi Singosari yang sangat dekat dengan kedua arca tersebut yang terdapat pada jalan menuju ke Gunung Arjuna, penggunaan candi ini diperkirakan tidak terlepas dari keberadaan Gunung Arjuna dan para petapa yang bersemayam di puncak gunung ini pada masa itu.

Bangunan candi utama dibuat dari batu andesit, menghadap ke barat, berdiri pada alas bujur sangkar berukuran 14 m × 14 m dan tinggi candi 15 m. Candi ini kaya akan ornamen ukiran, arca, dan relief. Di dalam ruang utama terdapat lingga dan yoni. Terdapat pula bilik-bilik lain: di utara (dulu berisi arca Durga yang sudah hilang), timur yang dulu berisi arca Ganesha, serta sisi selatan yang berisi arca Siwa-Guru (Resi Agastya). Di komplek candi ini juga berdiri arca Prajnaparamita, dewi kebijaksanaan, yang sekarang ditempatkan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Arca-arca lain berada di Institut Tropika Kerajaan, Leiden, Belanda, kecuali arca Agastya.

Sekadar informasi tambahan, penemuan dari candi ini sendiri tidak lepas dari peranan pemerintah Hindia-Belanda. Tahun 1803 merupakan pertama kali dilaporkan adanya temuan reruntuhan bangunan candi di daerah gerbang masuk Malang itu. Saat itu ditemukan Nicolaus Engelhard, yang menjabat sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa.

naskah: m.ridlo’i | foto: farid rusly