Kerajinan tangan dari kaca pyrex yang berkembang sejak lima tahun lalu ini memang menawan. Sayang, hingga kini hanya ada tiga perajin yang bertahan. Tak kenal menyerah, mereka terus bertahan dalam situasi yang kadang serba sulit.Strategi hargapun digulirkan.

Bening, berkilau, dan indah. Kesan ini terasa saat melihat rangkaian anyaman membentuk hati berukuran sedang, lengkap dengan dua ekor merpati di atasnya. Hiasan berbahan kaca pyrex ini berdiri tegak di atas sebuah meja. Di sudut lain, nampak berbagai kerajinan dengan bentuk yang lain. Sementara di balik meja, seorang pria asyik memanasi batangan kaca pyrex. Ia menggunakan sebuah kaca mata hitam guna melindungi matanya dari jilatan api pemanas.

Andi Rifansyah adalah salah satu perajin kaca pyrex di Sidoarjo yang berhasil ditemui oleh EastJava Traveler. Ia mendapatkan keahlian mengolah kaca pyrex dari tempat bekerjanya. “Dulu dapat pelatihan dari kantor yang kerjasama dengan Malaysia. Tapi setelah selesai kantor malah tutup,” cerita Andi saat ditemui di Netha Art & Craft. Kemudian ia memutuskan untuk memanfaatkan keahlian yang sudah didapatnya itu.

“Kaca pyrex mirip dengan kristal, saking miripnya orang pasti percaya kalau itu kristal,” ujar perajin yang memulai usahanya pada tahun 2005 itu. Namun, menurut Andi, perbedaannya terletak pada proses pembuatan. Kerajinan kristal dibuat menggunakan cetakan sehingga mudah pecah dan tidak bisa diperbaiki bentuknya. Berbeda dengan kaca pyrex yang pembuatannya dipanaskan sambil dibentuk sesuai keinginan dengan burner las yang sudah dimodifikasi.

Pada suhu normal (ruangan) kaca pyrex sangat keras, namun bila dipanaskan ia menjadi lentur. Api yang digunakan juga tidak boleh sembarangan. Bila dibakar dengan api biasa, kaca pyrex akan berwarna kehitaman. Itulah sebabnya Andi memodifikasi burner las miliknya dengan tabung oksigen.

Proses pembuatan tidak terlalu lama. Untuk karya berukuran kecil dengan bentuk binatang, Andi hanya butuh waktu sekitar 5 menit saja. Sementara untuk karya berukuran besar dengan tingkat kesulitan tinggi, ia butuh 3,5 jam.  Karya ukuran kecil dibuat dari kaca pyrex dengan ukuran diameter 7 milimeter. Sedangkan karya berukuran besar biasanya memadukan penggunaan kaca pyrex ukuran diameter 7, 12 maupun 25 milimeter sesuai pesanan pelanggan.

Kaca pyrex yang digunakan Andi didapatkan dengan impor dari Iwaki Glass, sebuah perusahaan kaca dari Jepang. “Saya harus inden dua bulan dulu sebelum barang di tangan,” tutur pria pemilik Netha Art & Craft ini. Lebih lanjut menurutnya bila pesanan melimpah dan stok bahan habis, kadang ia juga mengambil bahan dari Malaysia.

Netha Art & Craft sering mendapat order dari instansi pemerintah, baik Surabaya, Sidoarjo, maupun kota-kota lainnya. Kendala yang dialami Andi beserta Puji Astuti, istrinya, adalah keterbatasan jumlah perajin kaca pyrex. Akibatnya, saat datang pesanan dalam jumlah besar, Andi mesti bekerja sendiri. Rencananya, ia akan memberikan pelatihan sekaligus berbagi keahlian agar jumlah perajin bisa bertambah.

Bagi Anda yang berminat, harga yang dibandrol tidak terlalu mahal. Untuk produk berukuran kecil, harganya Rp 15 ribu. Bentuknya tinggal pilih, mau kuda, ulat, laba-laba dan masih banyak lagi. Di sisi lain, harganya ada yang bisa mencapai jutaan rupiah. Tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. Apabila kerajinan kaca pyrex Anda beli kemudian patah, Netha Art & Craft memberikan garansi berupa perbaikan kerajinan tersebut seperti baru.

Anda bisa langsung datang ke kantor Netha Art & Craft di Perum Magersari Permai Blok A-6 Sidoarjo. Bagi Andi yang di Surabaya, mereka membuka showroom di Royal Plasa (craft center) LG no AA 1-18. Selain itu mereka juga memiliki showroom hasil kerja sama dengan instansi pemerintahan seperti di Disperindag Jatim dan Dekranas Sidoarjo. Pemesanan secara online juga bisa dilakukan melalui website www.nethacfrat.indonetwork.co.id. Netha Art & Craft memberikan layanan antar bagi pelanggan di sekitar Surabaya dan Sidoarjo saja.

naskah : arum | foto : wt atmojo