Perpaduan seni, kebudayaan dan teknologi dari dua negara berbeda dapat melahirkan karya – karya kerajinan yang unik dan eksklusif. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut dapat disaksikan pada pameran Te-Collabo atau Technology Collaboration di Galeri Seni House of Sampoerna, 16 April hingga 10 Mei 2009 mendatang.

Pameran yang menampilkan puluhan karya kerajinan seperti: Kimono dan Obi batik yang terbuat dari sutra, tenun sutra serta seni Oshie ini merupakan hasil kolaborasi teknologi dan seni antara Yayasan Royal Silk Yogyakarta dan Kyoto Prefecture. Selain mempererat hubungan persahabatan antara kedua provinsi ini, kerjasama ini juga bertujuan untuk mengolah material lokal dengan penggunaan teknologi modern serta menggabungkan kreativitas masyarakat setempat untuk menciptakan karya seni dan kerajinan yang unik dan berkualitas.

Tak hanya pameran, pada 15 – 16 April 2009 juga akan ditampilkan demo memintal kain sutra emas oleh pengrajin Bantul dan demo membuat seni Oshie yang akan dibawakan langsung oleh Mr. Soho KONISHI. Beliau merupakan generasi ke empat guru besar seni Oshie dari Miyabi School of Oshie Art di kota Kobe yang telah berdiri sejak tahun 1907. Sebelumnya pameran Te-Collabo ini juga telah dipamerkan di Shinpukan Gallery, Kyoto-Japan (2007), Taman Budaya Yogyakarta (2007), Tokyo Big Sight (2008), ECO Product Expo Tokyo-Japan (2008), Inacraft di Jakarta (2008) dan Jogja National Museum (2009). Selain itu di lantai dua Galeri Seni HoS, masyarakat pecinta seni di Surabaya juga dapat menyaksikan 20 karya fotografi Kyoto – Yogyakarta oleh Tarko Sudiarno yang sebagian besar menggambarkan kehidupan masyarakat Yogyakarta dan Kyoto – Jepang.

Yayasan Royal Silk atau Royal Silk Foundation merupakan organisasi non profit dalam bidang sosial yang berdiri pada tahun 2004 atas prakarsa GKR Pembayun. Bersama Kyoto Prefecture, Yayasan Royal Silk memberikan pelatihan dan edukasi dalam membudidayakan sutra liar serta mengajarkan kultivasi tanaman – tanaman pakan sutra liar kepada para petani dan transmigran lokal di desa Karang Tengah, Imogiri, Bantul. Melalui program ini diharapkan dapat memandirikan dan meningkatkan pendapatan penduduk di salah satu daerah tertinggal di Bantul. Kesuksesan program ini terbukti dari 5000 pohon pakan sutra liar (jambu mete, sirsat, alpokat dan mahony) yang berhasil ditanam oleh para petani Karang Tengah.

“Dari pameran ini diharapkan dapat menimbulkan ide bagi masyarakat Surabaya dan Jawa Timur untuk meningkatkan pembudidayaan material lokal sehingga mempunyai nilai tambah dan lebih berkualitas” ujar Ina Silas, General Manager House of Sampoerna.

House of Sampoerna sebagai salah satu icon pariwisata Surabaya turut mendukung dan meningkatkan nilai seni, budaya dan pariwisata bersama para seniman, institusi kebudayaan dan organisasi sosial seperti dengan Yayasan Royal Silk. Dengan konsep ”One Stop Tourist Destination”, House of Sampoerna tidak hanya mengajak pengunjung menikmati pameran di Galeri Seni, namun juga mengetahui sejarah perjalanan Sampoerna di Museum, bersantai bersama teman, keluarga ataupun bertemu rekanan bisnis di Café, dan berbelanja di Kios Cinderamata setiap hari, pukul 09:00 – 22:00.***