Peluang usaha bisa datang dari mana saja, termasuk dari wisuda sekolah dan perguruan tinggi. Meski peluang ini tak menjanjikan hasil pendapatan yang kontinyu di tiap bulan, namun bagi pasangan Kurniati Rahayu dan Suyadi, warga Kota Malang, jawa Timur, cukup jadi sandaran hidup keluarga.

Suyadi meneruskan usaha ini dari ayahnya. Sejak kelas dua sekolah dasar, ia sudah membantu orang tua menyiapkan alat-alat wisuda pesanan sekolah atau kampus di Malang. Ayahnya, Rachim Slamet, dikenal sebagai pengusaha produk perlengkapan wisuda dan saat itu masih tinggal di Jl Welirang, Malang.

Setelah ayahnya meninggal, Suyadi meneruskan usaha ini. Menurut Kurniati, istri Suyadi, bisnis ini sebetulnya cukup menjanjikan. Khususnya pada bulan-bulan pelaksanaan wisuda. Seperti April, September, dan Oktober.

“Di luar bulan itu ya biasa saja. Paling order pembuatan pin atau nama dada yang terbuat dari kuningan dan fiber,” kata Kurniati pada eastjavatraveler.com, Minggu (15/12) pagi. “Jadi usaha ini mirip petani. Musiman. Musim panen ya dapat untung banyak. Tapi pas tidak musim panen ya dapatnya sedikit,” candanya.

Di workshop mereka yang ada di Jl Raya Gadang, Malang, pasangan Suyadi dan Kurnia memproduksi sendiri piranti wisuda. Seperti pin, lencana, nama dada, gordon, gordon gombyok, medali, souvenir, hingga map dan tabung untuk tempat ijazah. Selain itu, mereka juga memproduksi toga, jas almamter, baju laboratorium, katelpak, celemek, dan masih banyak lagi. Untuk bahan baku, lanjutnya, ia mengandalkan suplai dari Kota Malang dan Surabaya.

Diakui oleh Kurnia, meski terbatas pada sisi SDM, usaha ini diam-diam sudah merambah ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Kota Malang sendiri, Surabaya, Magetan, hingga Banjarmasin. “Bahkan usaha kami juga dipercaya untuk melayani kebutuhan wisuda di Timor,” aku Kurnia.

naskah : hendro d. laksono | eastjavatraveler.com