Kabar ini jelas jadi angin segar bagi para pematung di Trowulan, Mojokerto. Karena 5 Juni lalu, Ir Jero Wacik menyatakan, Hariadi Sabar, salah satu pematung di Trowulan, berhak untuk mendapat penghargaan, kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya.

“Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia memberikan Penghargaan Kebudayaan Tahun 2009 untuk Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya kepada HARIADI SABAR sebagai Penghargaan Pemerintah Indonesia Atas Prestasinya menekuni Bidang Budaya Pengembang Seni Patung Perunggu (Jawa Timur),” demikian yang tertulis di pernyataan resmi Menbudpar.

Hal ini, berdasarkan Keputusan menteri Kebudayaan dan pariwisata Republik Indonesia Nomor : SK.02/KP.107/SEKJEN/DKP/2009, tanggal 5 Juni 2009.

Hariadi Sabar lahir di Mojokerto,1 Mei 1957. Saat ini, ia tinggal di Candi Brahu Gg.I/18 Trowulan-Mojokerto. Hidup bersama Lisfiroh, istrinya, dan empat anaknya, masing-masing Ervina Perwati, Elvira Agustina, Vedanata, dan Nara.

Aktifitas yang ia lakoni bermula dari proses belajar sendiri atau otodidak sejak di bangku SD. Saat itu, ia mendapat pelajaran mematung dari orang tuanya yang masih memiliki garis keturunan dari Keluarga Pematung Cor logam Kuningan/Perunggu.

Ia pernah memberikan kursus pada mahasiswa magang dari IKJ,Jurusan Seni Grafis dan Seni Patung, sejak tahun 1986 hingga sekarang.

Sebelumnya, ia mendapat penghargaan Juara 1 Lomba Karya Patung,katagori Seni Patung Instalasi Ciputra Jakarta dan Juara Harapan 4 Lomba karya Seni Patung Ciputra Jakarta. Beberapa karya yang ia buat antara lain patung monumen Airlangga di Museum Selomangleng (Kediri), patung Monumen Garuda 45 Bangli, Denpasar (Bali), Patung Salib di Singapura, Patung Airlangga di Melbourne Australia, dan Monumen Adipura di Perempatan Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto.

Saat ini sedang menyiapkan 13 patung karya Dolorosa Sinaga, pematung, Dekan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, untuk pameran di Bali, Oktober 2009.