Di tengah gempuran era modernisasi budaya, Ludruk Irama Budaya masih saja terus berusaha eksis. Kelompok kesenian ludruk yang terbentuk pada 1987 ini hingga sekarang masih bisa ditemui di Kampung Seni THR Surabaya.

Eksistensi Ludruk Irama Budaya tak lepas dari kegigihan Deden Irawan, lelaki asal Bogor yang juga sebagai anak angkat dari Sakia, Sang Pendiri Ludruk Irama Budaya. Awalnya Deden begitu ia akrab disapa, bekerja di Terminal Bus Bungurasih dan kemudian bertemu dengan Mak Sakia Sunaryo dan diajak untuk bergabung di kelompok Ludruk ini, hingga akhirnya Deden menjadi anak angkat dari Sakia sendiri.

Sepeninggal Mak Sakia tahun 2012 yang lalu, Deden diamanahi untuk meneruskan dan mengurus Ludruk Irama Budaya hingga saat ini. “Saya diamanahi untuk mengurus Ludruk Irama Budaya oleh Mak Sakia, alhamdulillah ternyata saya mampu,” ujarnya pada EastJavaTraveler.Com.

Deden mengurus pemain ludruknya sejumlah 87 orang, akan tetapi sekali pentas hanya sekitar 35-40 orang yang tampil. Ada yang berperan sebagai penabuh gamelan, penari bedayan, dan pelawak yang dalam sekali pertunjukan sekitar 3 jam.

Menurut pria 33 tahun ini, peminat dari pentas Ludruk rata-rata yang sudah lanjut usia tetapi terkadang ada juga penonton berusia muda. Demi kelangsungan kelompok ini, Deden memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan banyak pihak, seperti Pegadaian, Bank Jatim, Telkomsel dan majalah Directory.

Usaha kerja sama tersebut nyatanya bisa menarik minat penonton di setiap pertunjukannya melalui doorprise yang disediakan oleh pihak yang bekerja sama. Deden berharap semoga minat untuk menonton dan melestarikan kesenian ludruk ini masih terus tetap ada meskipun telah banyak tontonan modern yang menyaingi.

naskah|foto : denty puspita meilani