Selain bertujuan menyegarkan pikiran dan bersantai, berkunjung ke tempat wisata alam juga mampu menantang adreanalin anda. Salahsatunya adalah Air Terjun Tumpak Sewu atau Coban Sewu.

Berada di Desa Sidomulyo, Pronojiwo, Lumajang, dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Ampel Gading, Malang, membuat air terjun ini bisa ditempuh lewat tiga jalur sekaligus. Yaitu jalur Desa Sidomulyo, Gua Tetes, dan Ampel Gading (Malang).

Sejauh ini, jalur paling aman dan dekat adalah jalur resmi Desa Sidomulyo, Lumajang. Melewati jalur ini, anda akan menemui sejumlah anak tangga bambu yang disusun sepanjang jalur, dengan medan naik turun, karena jalur menantang inilah, Air Terjun Tumpak Sewu biasa dijuluki tempat wisata ekstrem. Meskipun dari bambu, jalur ini dibuktikan aman. Selain itu, panorama sepanjang jalan tidak akan mengecewakan. Ditengah perjalanan, anda akan menemui gardu tempat singgah untuk sekedar menghela nafas. Karena beberapa jalur masih berkonstruk tanah, anda perlu ekstra waspada, terlebih saat cuaca penghujan seperti sekarang, biasanya tanah akan licin, karena air hujan.

Anda juga bisa menikmati pesona air terjun dari atas. Akan terlihat air terjun membentuk sebuah lubang raksasa. Jika anda memilih rute dari Ampel Gading, Malang, anda bisa melihat lebih dekat sumber air yang jatuh dari ketinggian 180 tersebut. Namun, anda harus tetap ekstra berhat-hati, mengingat tidak ada pagar pembatas pada sisinya.


Kurang lebih satu jam perjalanan melalui jalur ini, anda akan disambut indahnya Air Terjun Tumpak Sewu. Tempat dimana berjajar air terjun yang bersumber dari Gunung Semeru, Lumajang. Dikatakan berjajar, karena sumber Air Terjun Tumpak Sewu ini jumlahnya sangat banyak, itu juga yang menjadi alasan kenapa air terjun ini dinamakan Coban Sewu.

Berkunjung menikmati guyuran air terjun Tumpak Sewu Lumajang ini tidaklah mahal, anda bisa membeli tiket seharga Rp 5.000 saja (melalui jalur Desa Sidomulyo). Pintu tiket buka mulai pukul 07.00 pagi sampai 15.00 WIB. Waktu yang tepat untuk menikmati keindahannya, adalah pagi hari, karena anda bisa melihat bergesernya sinar matahari diantara cekungan air terjun bersama sambutan percikan air yang dingin.

naskah : pipit maulidiya | foto : rangga yudhistira