Berada di kawasan lereng Gunung Wilis yang berpanorama indah dan berhawa sejuk, obyek wisata Air Terjun Sedudo bisa dipilih sebagai tujuan wisata yang menyenangkan.

Anda yang suka pada panorama air terjun, bersiaplah untuk terpesona. Betapa tidak, beberapa air terjun dengan panorama yang memukau di sekelilingnya, bisa ditemui di sisi timur Gunung Wilis ini.

Ada Air Terjun Sedudo, Roro Kuning, Pacoban Ngunut, Pacoban Coban, serta air terjun Ngleyangan. Semua air terjun itu tampil dengan wajah asli dan alami.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk memang sengaja membiarkan kondisinya seperti itu. Tujuannya tak lain, agar objek wisata andalan kabupaten ini tampak alami. Kalaupun selama ini Pemkab sempat melakukan pembangunan secara fisik, hal itu hanya bangunan fasilitas pendukung saja.

Di antara beberapa air terjun itu, Air Terjun Sedudo yang paling dikenal masyarakat secara luas. Obyek wisata air terjun ini berada di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, sekitar 33 km arah selatan Kota Nganjuk.

Wisatawan yang berminat berkunjung ke Sedudo dapat menempuh akses mencapai Kota Nganjuk dari arah Surabaya atau Yogyakarta. Dari arah Surabaya, Nganjuk berjarak sekitar 110 km, sedangkan dari Yogyakarta sekitar 200 km. Perjalanan dapat ditempuh dengan angkutan umum berupa bus maupun kendaraan pribadi.

Dari Kota Nganjuk, wisatawan masih harus menempuh perjalanan sejauh 30 km ke arah selatan ibu kota kabupaten. Jalur transportasi ke arah lokasi wisata terbilang baik karena jalannya yang mulus. Namun demikian, karena lokasinya di gunung, jalan menuju Air Terjun Sedudo cenderung menanjak, naik-turun, dan berkelok-kelok. Kondisi jalan seperti ini tentu sulit untuk dilewati oleh kendaraan umum seperti bus. Oleh karena itu, bila berniat berwisata ke air terjun Sedudo, sebaiknya gunakan kendaraan pribadi roda empat non-bus.

Bagi wisatawan yang naik angkutan umum juga bisa. Dengan akses dari terminal Kota Nganjuk naik angkutan umum jurusan Sawahan, lalu sampai di pemberhentian terakhir di Pasar Desa Sawahan. Sampai di situ kita dapat memanfaatkan layanan jasa angkutan ojek hingga mencapai lokasi wisata Air Terjun Sedudo.

Berjuta Pesona
Bicara Air Terjun Sedudo seperti tiada habisnya. Tak salah karena di obyek wisata itu mengandung eksotika alam yang begitu memukau. Mulai dari air terjunnya, pemandangan alam, persawahan masyarakat sekitar, tradisi budaya masyarakat, dan juga panorama pegunungannya.

Berada pada ketinggian 1.438 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan ketinggian air terjun ini mencapai sekitar 200 meter. Dengan ketinggian seperti itu, maka jika dilihat dari bawah, air terjun yang turun dari atas nampak seperti butiran-butiran es, berwarna putih yang meluncur ke bawah.

Belum lagi bila kita melangkahkan kaki lebih jauh sekitar 500 meter dari air terjun, lalu kepala kita melihat ke atas betapa terpancar sebuah kegagahan disertai gemuruh. Sebuah pesona yang melambangkan kebesaran anugerah Sang Pencipta.

Beberapa kilometer sebelum masuk pintu gerbang menuju Sedudo, pandangan mata makin dimanjakan oleh keindahan alam yang menyapa. Hamparan bunga mawar tampak menghiasi pekarangan rumah penduduk hingga di kiri-kanan jalan. Semuanya berpadu memancarkan sebuah makna keindahan.

Tak hanya panorama alam. Air Terjun Sedudo juga merupakan objek wisata budaya. Setiap bulan Muharram atau 1 Sura, upacara ritual mandi Sedudo selalu digelar di tempat ini. Upacara yang difasilitasi oleh Pemkab ini menyedot kedatangan ribuan orang, yang bukan saja berasal dari Nganjuk, tapi juga daerah-daerah lain. Bahkan juga dari mancanegara, tak ingin melewatkan sebuah tontonan seni budaya yang cukup menarik.

Di saat-saat itulah, Air Terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual, yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda.

Sebagian besar masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun ini memiliki kekuatan supranatural. Seperti yang dituturkan Mohammad Syukron, 52 tahun, mitos kekuatan air Sedudo konon sejak jaman Majapahit, yang mana dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di sana. “Terlebih bagi yang memanfaatkannya demi mengharap berkah di bulan Muharram,” tegasnya pada EastJava Traveler.

Relung Ajaran Ki Ngaliman
Setiap daerah obyek wisata tentu memilki nilai lain, disamping keindahan panorama alamnya. Letak sisi lain itu terkadang ada pada asal mula yang masih berhubungan dengan mitos yang berkembang, dan kemudian diyakini masyarakat sekitar obyek wisata.

Berdasarkan cerita turun-temurun, dulu kawasan Sedudo merupakan tempat pertapaan Ki Ageng Ngaliman, tokoh pelopor penyebaran agama Islam di Nganjuk waktu itu. Sebagai penghormatan atas segala jasanya, maka setiap bulan Suro sebuah upacara ritual selalu digelar. Ritual yang diberi nama pengambilan Air Sedudo itu diisi dengan acara iring-iringan gadis berambut panjang yang berbusana adat Jawa, berjalan perlahan menuju kolam yang berada tepat di bawah air terjun.

Lima gadis terdepan membawa klenting (istilah Jawa untuk guci-Red), sedang sepuluh lainnya mengiringi dibelakangnya. Tembang Ilir-ilir mengiringi langkah mereka. Tak lama kemudian, ke 15 gadis yang disebut Putri Tirtosari itu, tiba di kolam yang sudah menunggu lima pemuda, yang juga berpakaian ala abdi keraton di kerajaan Jawa. Lima pemuda dengan sebutan Jejaka Taruna inilah, yang akan mengambilkan air pusaka dari air terjun Sedudo.

Klenting beraneka warna itu diserahkan. Tak berapa lama, kelima pemuda menuju dasar air terjun yang bersuara gemuruh. Mereka pun memenuhi kelima klenting dengan air Sedudo yang dipercayai penuh khasiat itu, yang kemudian dipersembahkan sebagai sesaji bagi sang leluhur.

Aspek sejarah lain, khususnya tentang pemanfaatan Sedudo oleh kalangan raja dan ulama di jaman Kerajaan Majapahit dan kejayaan Islam, sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat tentang khasiat air terjun itu. Di jaman Kerajaan Majapahit, air Sedudo sering digunakan untuk mencuci senjata pusaka milik para raja dan patih dalam Prana Pratista. Sementara di zaman kerajaan Islam, Sedudo sangat dikenal sebagai kawasan pertapaan Ki Ageng Ngaliman.

naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo