Adakah tempat di Surabaya yang masih bisa merasakan angin bertiup semilir di antara pepohonan rindang, dengan arena bermain yang aman, plus suara gemericik air? Jawabnya: Banyak! Berbagai taman kota di Surabaya menawarkan semuanya.

Tawa seperti tak pernah beranjak dari wajah bocah-bocah yang siang itu sedang bermain di tengah semburan air mancur Taman Bungkul. Kaus tipis yang dikenakan basah kuyup tersiram air. Di bagian lain taman itu, kumpulan anak-anak berlarian mengitari bundaran tengah taman. Tak jauh dari mereka sepasang muda-mudi asyik bercengkrama sambil duduk berhadapan di papan jungkat-jungkit.

Begitulah. Suasana di Taman Bungkul Jl. Raya Darmo Surabaya siang itu seperti mewakili betapa Surabaya kini memang sudah sangat berbeda. Panas yang menyengat di kota Pahlawan mulai berwarna lain dengan hadirnya taman-taman kota yang menjamur. Tidak hanya taman yang hanya sekedar pemanis di pojokan jalan, tapi juga taman dengan hamparan luas dan dipenuhi tempat bersantai di sela-sela arena bermain. Suka atau tidak, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemerintah Surabaya patut diacungi jempol untuk itu.

Seperti karakter manusia yang selalu berbeda, begitu juga taman kota di Surabaya. Masing-masing memiliki keunikan. Taman Dolog yang baru saja diresmikan misalnya. Di taman itu ada monumen berupa pilar-pilar miring dengan susunan bergelombang yang mengeluarkan kucuran air di tiap ujungnya. Bila malam menjelang, pilar-pilar miring tersebut tampak indah dengan beragam warna-warninya.

Di Jl. Raya Darmo, ada Taman Bungkul. Taman seluas 900 meter persegi ini sering menjadi perhatian karena acara musiknya yang selalu ramai di tiap malam Minggu. Selain itu, lokasinya yang terbuka dan buka 24 jam menjadi keunggulan tersendiri. Lain Bungkul, lain pula taman Flora. Dengan luas 3,1 Ha, banyak hal yang kita temukan di sini. Mulai dari 150 jenis tanaman dengan papan pengenal di beberapa bagian, lokasi outbond, binatang-binatang seperti burung, ikan, kijang polos, kijang tutul dan monyet. Juga taman baca yang ada tiap hari Sabtu dan Minggu.

Taman Prestasi di Jl. Ketabang Kali lebih unik. Taman yang tutup pada pukul sembilan malam ini memiliki banyak mainan anak-anak dan tempat untuk duduk. Selain itu, di taman ini juga terdapat kolam bermain air (kecek-Jawa) untuk anak-anak. Disebut kolam kecek, karena tinggi air yang ada di dalamnya hanya sebatas lutut anak-anak saja. Menariknya, di akhir minggu, Taman Prestasi menjadi lebih ramai dengan adanya badut-badutan dan wisata perahu, hasil kerjasama dengan Dinas Pariwisata.

Di Taman Biliton yang berlokasi di tempat yang sama dengan namanya, terkenal juga dengan istilah ‘Taman Lansia’. Di jalan setapak yang terdapat di taman ini ditaburi kerikil-kerikil yang menjadi favorit para orang-rang lanjut usia untuk berjalan telanjang kaki di atasnya. “Sekalian untuk pijat kakilah,” ucap Yusuf Leo Eddy Sutono, salah seorang staf Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemerintah Kota Surabaya.

Selain itu, ada pula beberapa taman baru seperti taman Undaan dan taman di bagian belakang Surabaya Plaza yang berdekatan stren kali. Taman terakhir ini belum diresmikan, karena itu, belum ada nama yang jelas untuk menyebut lokasi ini. “Rencananya, di taman belakang Surabaya Plaza itu nanti akan ada ski air dan rute jalan tembusan untuk wisata perahu dari Taman Prestasi,” jelas petugas yang biasa dipanggil Pak Leo ini lagi.

Di antara semua kekhasannya, semua taman di Surabaya memiliki kelebihan yang sama, yakni lokasinya mudah dijangkau oleh warga kota. Setidaknya itu yang diakui pengunjung kepada East Java Traveler. Yustinus misalnya. Laki-laki 28 tahun yang datang dengan keluarganya mengatakan memilih mengunjungi taman karena dekat dan memberikan kesan yang berbeda dari pada mall.

“Kalau di taman-taman kaya gini segar dan bisa nikmati suasana alam,” ujarnya. Bagi warga Ciliwung ini setiap waktu senggang adalah saat yang pas untuk mengajak anak bermain di taman kota.

Fasilitas yang mendukung, menjadi pilihan Ervan, pemuda 32 tahun yang memilih Taman Bungkul sebagai tempatnya bersantai. Fasilitas WIFI yang ada Taman Bungkul digunakannya untuk bersurfing ria. “Sekalian sambil menikmati alam, tapi kalau malam terlalu ramai, jadi seringnya siang-siang,” ucap staff marketing perusahaan farmasi ini.

Untuk menggunakan WIFI di Taman Bungkul harus membeli voucher seharga Rp 27.500,- di counter Telkom. Untuk yang ingin berpetulang, berbagai fasilitas yang diberikan oleh tiap taman, seperti wisata perahu, outbond, dan sebagainya bisa dengan maksimal dimanfaatkan.

Uniknya, hampir tidak sepeserpun keluar dari kantong untuk menikmati alam dan fasilitasnya di taman kota. Termasuk untuk beberapa pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangan di sekitar taman. “Di sini nggak pakai pajak-pajak, jadi enak, mbak buat pedagang kaya kita-kita ini,” ujar Haryono (35).

Tak lama lagi, Taman Bungkul memiliki fasilitas barang baru. PDAM Surabaya akan membuat wastafel dengan air yang bisa langsung diminum. Rencananya, fasilitas itu akan diresmikan pada 3 Agustus 2009 mendatang oleh Walikota Surabaya, Bambang DH.

Walaupun banyak mall dan Plaza di Surabaya, rupanya keindahan dan kesegaran alam masih banyak dicari oleh masyarakat. Refreshing adalah tujuan yang paling sering diutarakan oleh para pengunjung. Hampir semuanya mengaku, penatnya urusan kantor di Surabaya yang pasdat dengan bangunan dan polusi, menjadikan taman kota menjadi tujuan.

“Saya kalau pas istirahat dari keliling kerja ya ke sini. Di mana lagi kalau di Surabaya yang penuh ini. Banyak pohon dan tempat istirahatnya enak,” papar Rianto (32) seorang sales furniture tentang kebiasaannya melepas lelah di Taman Flora hampir tiap hari.

Danny, Didik, dan Andy, mahasiswa dari UPN pun mendukung ungkapan Rianto. “Taman itu enak buat refreshing, kalau mall untuk jalan-jalan aja, sambil belanja. Tapi kalau mau duduk yang enak dan tenang ya ke taman,” papar mereka. Malam hari juga menjadi pilihan untuk nongkrong di Taman Kota. Apalagi di malam Minggu, Taman Bungkul selalu memiliki acara musik yang menarik. “Kalau malam banyak anak mudanya, jadi seru,” ungkap mereka lagi.

Banyaknya pengunjung ini juga diakui oleh Sudarmaji, tukang parkir di Taman Bungkul. “Kalau pagi sampai siang aja bisa sampai 40 motor. Kalau sore ke malam, malah bisa ratusan. Apalagi malam minggu, wah, itu nggak kehitung, mbak.tapi tetap aja sepeda mtornya lebih banyak daripada mobil” ujar laki-laki asli Madura ini.

Di Taman Flora, hari Minggu pagi adalah saat-saat paling ramai. “Banyak keluarga yang datang sama anak-anaknya. Hari minggu kan libur, jadi banyak yang jalan-jalan di taman,” ucap Yudi (32), pengelola Taman Flora. Walaupun udara panas dan matahari tetap bersinar menyengat di langit, namun keindahan alam, dan angin segar yang berhembus dari sela-sela pepohonan membuat pengunjung betah menghabiskan waktu pengunjung di sana.

naskah dan foto :eva tarida sitompul