Bentuknya yang unik mengundang penasaran. Gemuk, menggelembung. Meski tak sepopuler nasi krawu, pudak, nama makanan ini, masih jadi oleh-oleh pilihan bagi beberapa wisatawan yang bertandang ke Gresik, Jawa Timur.

Makanan berbahan tepung beras atau tepung sagu ini banyak dijual di tepian jalan utama Kota Gresik. Dari waktu ke waktu, makanan ini masih diburu karena citarasanya yang legit, manis, dan gurih. Belum lagi aromanya.

Selain diolah dari bahan dasar tepung beras atau sagu, pudak juga dibuat dari campuran gula pasir atau gula jawa, dan santan.

Foto-Pudak_03Di Gresik, pudak yang dijual ada yang dibuat dari bahan dasar tepung beras, ada juga yang dari tepung sagu. Jika dilihat dari warnanya, pudak berbahan tepung beras berwarna putih, sementara pudak berbahan sagu berwarna coklat merah. Ada kalanya, pudak berbahan tepung beras juga berwarna coklat. Karena pemanis yang digunakan bukan gula pasir, tapi gula jawa.

Hingga kini, pudak tak berubah dari sisi kemasan. Para produsen pudak yang rata-rata berasal dari kelompok rumahan tetap menggunakan ope (pelepah daun pinang, red) sebagai bungkus. Pilihan ini ternyata jadi ciri khas pudak.

Di Gresik, pudak dipajang bersama jajanan khas lainnya. Lihat saja di Jalan Veteran. Kios-kios penjual pudak dan makanan khas Gresik berjajar di sepanjang jalan. Kios itu buka setiap hari, mulai pukul 05.00-21.00 WIB.

“Dulu jumlah kiosnya banyak. Sekarang tinggal tersisa 10,” aku salah satu pedagang di tempat ini. Padahal dari sisi penjualan, para pemilik kios mengaku mendapat hasil yang lumayan.

Misalnya Cholis, pedagang di Jl Veteran ini, mengaku bisa meraup laba Rp 2 juta per hari. “Itu dari jualan pudak saja. Tapi hanya di hari Minggu atau hari libur,” jelasnya. Pada hari biasa, toko milik Cholis mampu menjual 400 biji pudak per hari. Pudak ini dijual Rp 20 ribu- Rp 25 ribu per renteng. Dimana satu renteng berisi 10 biji pudak.

“Agar tidak bosan, pudak yang dijual juga bermacam-macam. Ada rasa cokelat, nangka, pandan, dan rasa sagu,” tambah Cholis sambil tersenyum.

naskah : poundra aditya | foto : rangga yudhistira