Jalan-jalan di Kebun Raya Purwodadi memang menyenangkan. Etalase bunga dan pepohonan yang ada, melebur dalam ruang yang apik dan terjaga. Sulit bagi siapapun yang pernah datang ke sini, akan melupakannya begitu saja.

Pasangan itu berjalan ringan di sela pepohonan. Sementara di belakang mereka, dua balita berkejaran dengan wajah sumringah. Sesekali senyumnya merekah, bahkan tak jarang, tawa lepas terlontar begitu saja. Apalagi pepohonan yang asri seolah melindungi kebahagiaan mereka. Daun-daunnya yang bergerak diterpa angin, seperti berlomba untuk menahan cahaya matahari agar tak mengganggu kebahagiaan mereka.

Ya, pagi itu, langit Kebun Raya Purwodadi (KRP) memang sedang cerah. Tak lagi mendung seperti minggu lalu. Sehingga di beberapa tempat, kita bisa melihat bunga-bunga mekar menyapa matahari pagi. Membiarkan warna-warna yang dimiliki, memantulan cahaya pagi sesuka hati.

“Ini acara rutin kami. Kebetulan minggu ini anak-anak juga libur. Jadi bisa ke kebun raya bareng-bareng,” kata Hadi Yuwono, 39 tahun, warga Surabaya. Katanya, tiap libur tiba, ia mengajak anak istrinya ke KRP. “Bersenang-senang sambil belajar,” tukas Hadi, disambut anggukan kepala istrinya.

Apa yang dilakoni Hadi Yuwono dan keluarganya, ternyata juga dilakukan oleh yang lain. Dari pantauan EastJava Traveler, mereka yang berkunjung ke KRP terdiri dari beberapa kelompok usia dan golongan. Selain rombongan anak sekolah, mereka yang datang ke KRP juga terdiri dari keluarga-keluarga yang ingin berwisata. Maklum, bea untuk jalan-jalan ke Purwodadi terbilang cukup murah.

Ruang eksplorasi yang ditawarkan di KRP juga sangat luas. Catatan yang ada menyebutkan, KRP memiliki luas 85 hektar. Di sini, kita bisa melihat dari dekat koleksi herbarium yang sangat beragam. Misalnya anggrek yang ditanam di rumah-rumah kaca. Ada sekitar 620 jenis yang terdiri dari 496 jenis anggrek alam dan 124 jenis anggrek silangan. Sekitar 7 jenis merupakan anggrek endemik Jawa Timur, seperti Appendicula imbricata, Dendrobium arcuatum, Pophiopedilum glaucophyllurn (anggrek selop), dan lain-lain.

Beberapa hal unik yang bisa kita lihat di sini adalah koleksi anggrek yang kini terancam keberadaannya. Seperti Ascocentrum miniuatum, Phalaenopsis amabilis (anggrek bulan) dan Phalaenopsis fimbriata.

Jasa Identifikasi

Kebun Raya Purwodadi dibuka untuk umum setiap hari, termasuk hari besar, mulai jam 07.00 sampai jam 16.00 WIB. Kunjungan dinas (informasi tanaman) dan kunjungan rombongan pelajar atau mahasiswa untuk maksud pendidikan botani hanya dilayani pada jam kerja, Senin – Kamis, jam 06.00 -13.00 WIB, Jumat jam 06.00 -10.00 WIB, dan Sabtu jam 06.00 – 11.30 WIB.

Dan seiring waktu, KRP memang makin dilirik banyak pengunjung. Uniknya, kebutuhan ‘tidak sekedar jalan-jalan’ juga makin tinggi. Sumber EJT di KRP mengatakan, untuk memudahan kebutuhan penelitian pelajar dan mahasiswa, KRP menyediakan jasa identifikasi dan penyediaan material tumbuhan.

Tak hanya itu, KRP juga dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan yang dibuka untuk umum pada jam kerja. Perpusatakaan ini memiliki 4000 bahan pustaka yang terdiri atas buku, majalah, cetak lepas dan laporan, khususnya yang berhubungan dengan kajian botani dan perkebunrayaan.

Sementara fasilitas untuk mereka yang datang khusus berwisata, KRP menyiapkan bangku-bangku, shelter, dan lapangan dengan rumput yang hijau, untuk duduk santai bersama teman dan keluarga. Jika ingin melepas lelah dan menikmati makanan atau minuman, tersedia juga kantin yang melayani pengunjung setiap saat, kecuali hari Jumat. Kantin ini juga disediakan juga untuk acara resepsi pernikahan, pesta, reuni, seminar, lokakarya, dan menerima pesanan katering.

Sementara, untuk melayani kebutuhan belanja, KRP menyiapkan kios penjualan tanamam yang dibuka setiap bari. Kios ini diperuntukkan bagi pecinta tanaman. Baik tanaman hias, buah-buahan, obat, dan tanaman penghijauan. Koleksi yang dijual di sini merupakan hasil perbanyakan dari tanaman koleksi kebun.

Koleksi Tropis
Dibanding kebun raya lain yang ada di Bogor, Cibodas, dan Bali, Kebun Raya Purwodadi (KRP) memang terbilang sepi pengunjung. Catatan terakhir yang dimiliki pengelola KRP, pada hari biasa, pengunjung yang datang berkisar di angka 200 hingga 400 orang. Jumlah ini sedikit tertolong jika ada rombongan pelajar SLTA, SLTP atau mahasiswa yang singgah. Angka 200-400 orang membengkak jadi 500 hingga 700 orang. Beruntung, pada hari libur, jumlah pengunjung KRP melonjak jadi 4 ribu atau 5 ribu orang.

Di awal berdirinya pada tahun 1941, KRP lebih fokus pada stasiun percobaan sekaligus pengembangan Kebun Raya yang ada di Bogor. Jadi, KRP hanyalah Cabang Balai Kebun Raya yang secara positioning sebatas pemekaran dari Stasiun Percobaan S’Lands Plantentuin Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor.

Berdasar catatan Divisi Jasa dan Informasi KRP, kebun raya ini tepatnya didirikan atas prakarsa Dr. D.F. Van Slooten pada tanggal 30 Januari 1941. Pada awal berdirinya, kata Wardoyo, kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian tanaman perkebunan atau produksi.

Saat itu, tanaman yang ada hanya sebatas coklat, cengkeh, teh, dan lain sebagainya. Kemudian pada tahun 1954, mulai diterapkan dasar-dasar perkebunrayaan dengan dimulainya pembuatan petak-petak tanaman koleksi.

Baru pada tahun 1980, sebagian tanaman ditata kembali menurut kelompok suku yang menganut klasifikasi sistem Engler dan Pranti. Dalam perkembangannya, kata Wardoyo, Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi diharapkan dapat menjadi pusat konservasi dan penelitihan tumbuhan iklim kering di daerah tropis.

Bicara fungsi, berarti bicara ke-khas-an KRP. Jika Kebun Raya Bogor lebih fokus pada fungsi pelestarian tanaman dataran rendah dan basah, baik yang ada di dalam atau di luar negeri. Sedangkan Kebun Raya Cibodas, sebagai tempat pelestarian tanaman dataran tinggi dan basah. Kalau Kebun Raya Eka Praya di Bali, spesialisasinya pada pelestarian tanaman dataran tinggi yang kering. Dan Kebun Raya Purwodadi, berupaya untuk konsisten pada upaya pelestarian tanaman dataran rendah kering.

Sebagai salah satu dari tiga cabang Kebun Raya Indonesia atau Kebun Raya Bogor, KRP dengan sendirinya juga menjadi cabang Unit Pelaksana Teknis yang bernaung di bawah LIPI (Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia) Bidang IPA.

Dengan begitu, KRP tidak hanya berfungsi sebagai tempat wisata semata. Tapi juga sebagai tempat inventarisasi, eksplorasi, reintroduksi, dan konservasi tanaman langka secara ex situ (di luar habitat, Red). Selebihnya, KRP juga berfungsi sebagai ajang pelayanan jasa ilmiah, pemasyarakatan ilmu pengetahuan dalam bidang konservasi dan introduksi tumbuhan.

Menuju Kebun Raya Purwodadi
Lokasi kebun raya ini terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Bisa dibilang keberadaan Kebun Raya Purwodadi cukup strategis. Dan, jalan menuju lokasi sangat mudah. Karena terletak di tepi jalan besar (jalur propinsi), yang menghubungkan tiga kota, yaitu Malang, Surabaya, dan Pasuruan.

Untuk jaraknya, dari Kota Malang adalah 24 kilometer ke arah utara, dan dari Kota Pasuruan 30 kilometer ke arah barat daya, dan dari Kota Surabaya 65 kilometer ke arah selatan.
Begitu mudahnya akses menuju Kebun Raya Purwodadi, inilah yang dapat dijadikan satu dari sekian banyak alasan datang ke sana. Selain itu, berbagai jenis kendaraan, seperti mobil, bus, dan motor dapat masuk ke kawasan kebun raya.

naskah : hd laksono | foto : wt atmojo