Suasana malam Monumen Tugu Pahlawan memang tak nampak seperti biasanya (22/10). Bersamaan dengan keputusan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2015, lebih dari 200 seniman berkumpul. Berkolaborasi memerankan drama kolosal Resolusi Jihad, yang pernah dilontarkan KH Hasyim Asy’ari, 70 tahun silam.

“Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardu ain (wajib dilakukan), yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak. Bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di luar itu jadi fardu kifayah, yang cukup dikerjakan sebagian saja,” ucap salahsatu aktor, menirukan ultimatum KH Hasyim Asy’ari, kepada para santri di seluruh pelosok Nusantara.

Sejarah mencatat, ultimatum inilah yang menjadi penyemangat arek-arek Surabaya menghadang tentara sekutu. Sampai pada puncak pertempuran 10 November 1945 yang diakui dunia, sebagai perang merebut kemerdekaan.

Disutradarai Heri Lentho, koreografer dan teater dancer dari Surabaya, supervisi naskah Riadi Ngasiran, dan penata musik Joko Susilo. Teater kolosal ini banyak memukau para audien yang datang. Suasana mencekam pertempuran, seolah benar-benar dihadirkan dengan puluhan letupan kembang api.

Dalam penulisan drama kolosal Resolusi Jihad, Heri Lentho melakukan riset berbulan-bulan. Membaca lembaran tulisan dari berbagai versi.

“Paling banyak saya ambil dari tulisan Agus Sunyoto (Sejarawan dan Budayawan Jawa Timur). Karena banyak sekali versi sejarah Resolusi Jihad ini. Saya pun harus bijaksana dan menampilkannya secara objektif,” ungkap laki-laki berkepala plontos ini menahan kantuk karena lelah.

Resolusi Jihad juga didukung oleh gabungan teater Surabaya, gabungan tari Surabaya, Jatiswara Surabaya, Drum Corps Jawahirul Hikmah Tulungagung, Laskar Putri Pritta Kartika, Komunitas Surabaya Juang, dan Komunitas Rooderbrug.

Bersamaan dengan drama kolosal ini, harapan besar kepada generasi penerus, untuk terus berjuang. Bambang Sulistiyono (cucu Bung Tomo) ikut serta memberikan presiasi untuk terus mengadakan acara serupa setiap tahunnya.

“Endingnya bagus, ini sangat membangkitkan semangat anak muda. Apalagi dijaman yang serba uang ini. Semua diatur uang, mau jabatan harus keluar uang, ini itu uang. Padahal spirit bangsa terletak di keberanian, kejujuran, dan keikhlasan, itu spirit yang sesungguhnya yang harus ditumbuhkan,” tutur laki-laki berkacamata ini dengan tegas.

naskah : pipit maulidiya | foto : rangga yudhistira