batik-01Kecintaan terhadap budaya bangsa harus diwujudkan secara nyata, yaitu dengan menjaga dan melestarikannya. Usaha itu salah satunya adalah, dengan merayakan Hari Batik yang jatuh pada tanggal 2 Oktober. Mengingat batik adalah warisan nenek moyang Nusantara.

Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur, bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Surabaya, menciptakan ruang bagi seluruh pelajar Jawa Timur untuk berkumpul pukul 08.00 sampai 14.00, di Balai Kesenian Cak Durasim Surabaya. Mereka Bersama-sama mendapatkan pelatihan membatik, dengan objek kain dan kayu.

Acara yang diselenggarakan tiap tahun ini, juga mengajak anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk terampil membatik.

“Adik-adik SMA mamang dipersiapkan untuk keterampilan semacam ini, khususnya membatik. Diharapkan, sekalipun tidak melanjutkan ke jenjang perkuliahan, mereka bisa mengandalkan ketrampilan yang mereka miliki,” tutur Putu Sulistiani, Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur.

Seperti yang terlihat, ratusan anak berkumpul di balai pendopo, sibuk dengan canting dan kain yang sudah berpola. Mereka tampak menikmati setiap goresan lilin panas berwarna coklat pekat itu, ada saja yang saling pandang dan melihat hasil karya teman disebelahnya.

“Batik akan semakin bagus, jika kita mencintai batik itu sendiri, selain melestarikan budaya, juga bisa mengangkat perekonomian bangsa,” tambah perempuan bersanggul ini.

Selain membatik, beberapa mahasiswa Jurusan Desain salahsatu universitas swasta di Surabaya, tampak sibuk mendandani patung dengan kain batik.

Sekalipun dilaksanakan setiap tahun, perayaan Hari Batik ini, masih dianggap kurang efektif mengajak anak-anak muda untuk menggunakan batik.

“Setiap tahun, acaranya nggak ada yang berubah. Harusnya, mumpung Hari Batik, harusnya dibikin lebih mengajak anak-anak muda untuk senang menggunakan batik. Soalnya biasanya anak-anak muda seperti kita malu menggunakannya, batik dianggap identik dengan orang-orang tua,” ujar Herlina Putri, Murid kelas 8 SMKN 12 Surabaya.

naskah : pipit maulidiyah | foto : rangga yudhistira