Semua perpaduan melebur di sini. Antara kemewahan dan kenangan akan nilai sejarah di setiap sudut ruangnya, membawa kita pada kenyamanan penuh tanpa batas.

Majapahit hotel adalah sebuah tempat menginap yang bersejarah dan lokasinya sangat strategis. Terletak di jantung Kota Surabaya dengan kemudahan akses melalui jalur kota, dan berada di kawasan pusat perbelanjaan serta perkantoran.

Berdiri megah di area yang luas, berpadu dengan hijaunya pepohonan, hotel yang bernama awal Oranje Hotel dan ada sejak 1910 ini menawarkan banyak kenyamanan dan kepuasan. Tentu dengan didukung gaya arsitektur yang menarik, bernuansa kolonial klasik, dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai historisnya.

Hotel bintang lima yang berada di Jalan Tunjungan 65 Surabaya itu, terlihat klasik dari sisi lorong, pilar, jendela, kaca, lantai, perabotan, dan juga di beberapa sudut seperti di ruang Adika nampak terdapat bevel (atap ruangan sebagai saluran ventilasi udara bangunan Belanda).

Tak salah bila kebanyakan pengunjung Hotel Majapahit kebanyakan dari turis mancanegara. Seperti Belanda, Inggris, Jepang, Amerika, Portugal, Prancis, dan masih banyak lainnya mereka sangat merindukan bangunan bergaya kolonial. Dan konsep inilah yang hingga kini ditawarkan pengelola hotel ini.

Elegan
Fasilitas yang ada di Hotel Majapahit cukup lengkap, terdiri dari 143 ruang tamu dan kamar yang luas dan mewah. Semua tertata unik dan menarik serta didukung pemandangan taman yang bagus sekali, demi memberikan kenyamanan dan pelayanan terbaik pada para tamu hotel.

Untuk beberapa tipe kamar hotel terbagi menjadi beberapa jenis dan fasilitas yang berbeda. Antara lain 1 Presidential Suite, 89 Executive Suites, 40 Garden Terrace Rooms, 9 Majapahit Suites, dan 2 Apartements.

Tentang fasilitas hotel ini ada city club country club (Finna golf and country club), massage theraphy and spa by Martha Tilaar, loby shop, fitness gym with aerobic studio, permainan tenis di lapangan rumput, ruang lobi, area bermain anak-anak, dan kolam renang.

Serta dilengkapi dengan room facilities. Seperti 24 hours room service, baby sitting service, air conditioning, sprinkle and smoke detector, individual safe, mini-bar, 3 telephone and 2 lines per room, internet high speed acces, voice mail, fax on request, cable TV, hair dryer, dan twice a day housekeeping service.

Sejarah Panjang
Bicara Hotel Majapahit tentu kita akan dihadapkan pada sejarah panjang yang pernah terjadi. Yaitu ketika Perang Dunia II berkecamuk hotel ini dikangkangi tentara Jepang. Fungsinya pun langsung berubah. Dari hotel atau tempat menginap, Oranje disulap jadi barak militer sekaligus kamp tawanan perang, khususnya untuk perempuan dan anak-anak. Yang mengherankan, pihak Jepang tetap menggunakan label hotel sebagai nama bangunan, dari Hotel Oranje menjadi Hotel Yamato.

Tanggal 19 September 1945 pemerintahan Jepang runtuh, Yamato mulai berpindah tangan. Bersamaan dengan datangnya tentara Belanda, bendera di puncak Yamato pun berganti, dari Hinomaru, jadi merah putih biru.

Kegembiraan masyarakat Surabaya setelah ditinggal Jepang langsung terusik. Apalagi pada tanggal 31 Agustus 1945, pemerintah Soekarno-Hatta sempat membuat maklumat yang menetapkan mulai 1 September 1945, bendera Merah Putih akan dikibarkan terus menerus di seluruh Indonesia.

Di Surabaya, maklumat ini disambut dengan pengibaran bendera di seluruh sudut kota. Spontan arek-arek Suroboyo melakukan gerakan besar-besaran demi merah-putih. Dan di Yamato, suasana bergerak makin panas. Seperti yang banyak tertuang dalam banyak catatan sejarah, terjadilah drama perobekan bendera Belanda menjadi Merah Putih. Mulai dari diplomasi alot Residen Sudirman dan Ploegman, perwakilan Sekutu, hingga aksi massa yang memadati Jalan Tunjungan. Sorak sorai berkumandang darah pun tercecer. Merah putih pun berhasil berkibar.

Ganti Nama
Hotel Majapahit memang terbilang kerap ganti nama bahkan julukan. Dimulai pada tahun 1910 bernama Oranje Hotel. Nama oranje, diambil dari nama keluarga Ratu Belanda pada saat itu. Lalu tahun 1942, nama yang digunakan adalah Yamato Hoteru atau Hotel Yamato. Tak lama, 19 September 1945, menandai spirit perjuangan arek-arek Suroboyo pada masa itu, Hotel Majapahit sempat menggunakan nama Hotel Merdeka atau Liberty Hotel.

Memasuki tahun 1946, hotel ini kembali dikelola Sarkies Brothers, dan namanya berubah menjadi Hotel LMS atau Lucas Martin Sarkies. Tahun 1969, ketika Hotel LMS ganti pemilik dari Sarkies ke Mantrust Holding Co., namanya berubah menjadi Hotel Majapahit. Memasuki tahun 19 Januari 1996, setelah memasuki masa restorasi selama tak kurang dari dua tahun, hotel ini kembali ganti identitas dengan label Mandarin Oriental Hotel Majapahit. Dan tanggal 22 September 2006, menjadi Hotel Majapahit.

Di Surabaya, Hotel Majapahit dikenal sebagai hotel yang menjanjikan standar kemewahan, eksotisme, dan sensasi historik tersendiri. Kamar Presidential Suite hotel ini, konon jadi yang terluas dan terbesar se-Asia Tenggara. Beragam fasilitas yang ada, mulai dari Health Club dengan fasilitas gymnasium dan aerobic area yang nyaman dan mewah, atau Indigo dan Sarkies Restoran & Bar.

Ingin merasakan kamar-kamar yang memiliki nilai sejarah, coba kamar Merdeka nomor 33 atau kamar Sarkies nomor 44. Karena kamar Merdeka adalah kamar yang ditempati Residen Belanda saat terjadi perobekan bendera merah putih biru. Sedang kamar Sarkies adalah kamar tempat keluarga Sarkies, pendiri hotel ini. Di kedua kamar kelas suites ini, terdapat foto dan narasi yang berhubungan dengan sejarah kamar itu. (naskah:m.ridlo’i – foto:wt atmojo)

Hotel Majapahit Surabaya
Address: Jalan Tunjungan 65 Surabaya,
Surabaya 60275, East Java, Indonesia.
Phone/Fax: (6231) 545 4333 / (6231) 545 4111
Website: www.hotel-majapahit.com