Dalam upaya untuk memperkenalkan khawasan Surabaya Utara sebagai destinasi wisata, House of Sampoerna (HoS), meluncurkan program Klinong-klinong ning Suroboyo (HoS Heritage Walk) sebagai pengembangan dari program Surabaya Heritage Track (SHT).

Dengan tujuan ‘Menelusui Jejak Warisan Surabaya’, program Klinong-klinong ning Suroboyo (KKS) adalah tur keliling wilayah yang memiliki sejarah dalam perkembangan kota Surabaya dengan berjalan kaki, untuk eksplorasi lebih jauh latar belakang sejarah kota dan kearifan budaya wilayah yang dikunjungi serta menikmati dari dekat keindahan bangunan-bangunan cagar budaya dengan arsitektur yang unik, maupun berinteraksi secara langsung dengan masyarakat sekitarnya.

KKS terbuka untuk umum dengan jumlah terbatas, dan dipandu oleh pemandu wisata berpengalaman dan mengenal sejarah panjang kota Surabaya. Klinong-Klinong ning Suroboyo: Jelajah Kalimas dapat dibilang sebagai upaya penelusuran jalur perdagangan Surabaya di masa lampau.

Di awali dari HoS, perjalanan trackers diarahkan ke Jl Panggung, sentra bisnis yang berdekatan dengan Kalimas dimana pada masa pemerintahan Belanda, Kalimas dikembangkan sebagai pelabuhan besar untuk kegiatan perdagangan bangsa Eropa. Karena itu, di sepanjang jalanan ini trackers akan menjumpai deretan bangunan kuno berupa toko dan rumah yang masih asli dan bergaya arsitektur Belanda.

Selanjutnya, trackers akan menjelajah ke Pasar Pabean yang terletak di sisi timur Sungai Kalimas serta sebelah barat Sungai Pegirian. Posisinya yang strategis menjadikan pasar ini sebagai pusat perdagangan sejak abad ke-15. Secara resmi, pasar tradisional tertua di Surabaya ini didirikan tahun 1849 pada era kolonialisme Belanda. Sejalan dengan perkembangan zaman, Pasar Pabean mengalami pembenahan dan dibangun secara permanen pada tahun 1930.

Pasar Pabean terkenal melalui kelengkapan komoditinya, mulai dari kebutuhan pokok seperti beras, sayur, bumbu dapur, unggas, perlengkapan rumah tangga hingga kebutuhan khas masyarakat Tionghoa, misalnya alat-alat persembahyangan dan makanan khas mereka seperti kuaci, bihun, bakpao, bakcang, cakue, manisan dan bakwan. Selain itu, di Pasar Pabean dapat ditemui pusat penjualan ikan atau hasil laut yang dipasok dari sejumlah kampung nelayan seperti Kenjeran, Sedati Sidoarjo, Brondong Paciran Lamongan, Gresik dan sebagainya.

Sesudahnya, trackers diajak menelusuri Kalimas melalui perkampungan Kampung Baru Bangilan, Kalimas Timur dan Kalimas Udik. Di sepanjang jalanan ini, trackers akan menemui pergudangan tempat bongkar muat barang dari dan ke dermaga, bukti nyata bahwa kota lama Surabaya pernah mengalami perkembangan pesat di bidang perniagaan. Di kawasan ini juga terdapat menara pandang dengan emblem Sura dan Baya yang dipergunakan untuk memantau dan mengkomunikasikan keluar masuknya kapal di Pelabuhan Kalimas.

Melalui perjalanan ini, trackers juga akan menjumpai sarana transportasi tradisional yang berfungsi untuk menghubungkan wilayah barat dengan wilayah timur Kalimas berupa perahu tambang yang telah ada sejak awal abad ke-20. Di sepanjang dermaga perahu tambang, trackers dapat melihat tangga beton yang dulu digunakan oleh perahu-perahu untuk bersandar di dermaga Kalimas. Karena tuntutan perkembangan jaman dan fasilitas pelabuhan, aktivitas pelayaran berpindah konsentrasi ke pelabuhan Tanjung Perak yang didirikan di muara Kalimas sekitar tahun 1920-an.

Jadwal Tur : Minggu, 23 dan 30 September 2012
Waktu : 07:00 – 08:30 Wib
Pos Pemberangkatan dan Kembali: House of Sampoerna


Untuk informasi lebih lanjut mengenai program KKS, Anda bisa menghubungi tim Marketing HoS melalui +62 31 353-9000 di ext. 24109 selama jam kerja (Senin-Jumat, 09:00-18:00 WIB) atau TIC (031-353 9000 ext. 24142).