Dampak naiknya nilai dolar di Indonesia membuat perubahan yang cukup signifikan di dunia fashion, sebut saja parfum. Melonjaknya nilai dolar tersebut tentu dirasakan oleh pengemar parfum kebanyakan. Lia seorang mahasiswa salahsatu universitas swasta di Surabaya mengatakan, hal itulah yang mendasarinya beralih menggunakan parfum KW alias palsu yang menyerupai aroma aslinya.

“Dulu parfum ori (original) cuma Rp 400 ribu atau Rp 500 ribu-an. Sekarang sudah sampai satu juta lebih, tambah mahal. Sekarang banyak yang jual bibit parfum jadi ga usah mahal-mahal. Wanginya pun sama,” akunya.

Beralihnya minat pembeli parfum original ke KW juga dibenarkan Wendy, penjual bibit parfum di Jl Rungkut Menanggal Harapan Blok Q no 1, Surabaya. Diakuinya, 1100 membernya merupakan orang kelas menengah keatas yang beralih ke produk KW karena parfum original mahal dan berharga jutaan rupiah.

Sehingga tak heran lagi, jika banyak dan menjamurnya penjual bibit parfum di daerah ibukota seperti halnya di Surabaya. Namun, kwalitas dan harga memang menentukan seberapa aman dan tahan lama sebuah parfum.

“Kalau ditempat saya, bibit parfum per mili-nya Rp 2.500 . Nanti dicampur dengan absolut. Absolut ini sejenis alkohol tapi kadarnya lebih tinggi. Saya pakai absolut karena kebanyakan orang sering merasa kulit mereka panas kalau campurannya alkohol atau metanol,” terangnya.

Perempuan berparas cantik ini juga menambahkan, karena campuran itulah kwalitas wangi parfum KW di bawah 10 persen wangi parfum aslinya. “Kalau sama, parfum aslinya gak laku dong,” sergahnya dengan nada bercanda.

Senada dengan hal tersebut, Jean Claude Debiéve seorang Parfumery Director perusahaan parfum Payan Bertrand di Prancis menjelaskan, ada tiga tingkatan jenis parfum melalui ketahanan wanginya. Pertama top, middle, dan bottom. Top adalah tingkatan pertama dimana parfum paling cepat menguap kisaran tiga sampai tujuh menit, Middle perlahan hilang dan bertahan hingga tiga jam saja, dan bottom lebih dari tiga jam bahkan sampai seharian. “Sementara parfum yang bagus berada di tingkat bottom ini,” terangnya dalam Bahasa Prancis yang diterjemahkan.

Dalam acara diskusi Seni Wewangian Prancis oleh Institut Français Surabaya (IFI) pada 23 April 2015 tersebut, Debiéve juga memberikan tips agar selalu memakai parfum di baju yang sedang dikenakan, karena di sanalah tempat yang paling netral agar wanginya tak berubah. Jika parfum dikenakan di kulit, dikhawatirkan wanginya akan berubah karena tercampur dengan PH atau asam tubuh kita.

“Selain itu, anda juga harus berhati-hati menggunakan parfum yang menggunakan pewarna. Karna hal itu dapat merusak warna pakaian anda,” imbuhnya.

naskah : pipit maulidiya | foto : farid rusly