Sesekali, mampirlah ke Banyuwangi setelah Idul Fitri. Jika beruntung, Anda bisa menikmati upacara adat yang tak terlupa. Seperti beberapa waktu lalu, tepat lima hari setelah Idul Fitri, digelar acara adat Seblang. Yaitu adat Suku Osing di Desa Olehsari yang diadakan rutin setiap tahun.

Adat Seblang digelar selama tujuh hari dan dibuka pada hari Jumat (24/8). Acara dimulai pukul dua siang diawali dengan ider bumi. Penari Seblang, pawang Seblang dan warga berkeliling di sekitar desa untuk mengusir roh jahat.

Acara utama dalam Adat Seblang adalah suguhan Tari Gandrung oleh penari yang telah dipilih oleh sesepuh desa. Penari mengenakan kemben, sewek, dan omprong (mahkota seblang) menyuguhkan tarian dalam kondisi tak sadarkan diri dirasuki oleh lelembut. Dengan mata terpejam dan tak sadarkan diri, penari dengan lepas mejiwai gerakan-gerakan tari diiringi oleh alunan musik gamelan.

Yang menarik dalam Adat Seblang adalah ritual tundik yaitu penari melemparkan selendang kearah penonton dan yang terkena lemparan selandang harus menari bersama di atas pentas. Prosesi tari-tarian dalam adat Seblang ini digelar berturut-turut selama tujuh hari kedepan hingga ritual penutupan.

Dalam acara Adat Seblang banyak syarat adat yang harus dipenuhi. Penari Gandrung yang menjadi lakon utama dalam adat ini dipilih secara supranatural oleh sesepuh adat desa. Omprong atau mahkota Seblang dibuat dari daun pisang sobo oleh sesepuh Penari Gandrung sendiri tanpa campur tangan orang lain. Selain itu, segala ritual dan proses pemberkahan penari dan pemasangan omprong hanya dilakukan oleh sesepuh Gandrung tanpa ada orang asing ataupun awak media yang boleh meliput. Penentuan hari jatuhnya Adat Seblang pun harus melalui proses supranatural yang rumit dilakukan oleh sesepuh desa. Tanggal kapan digelar adat ini tidak dapat ditentukan secara pasti karena harus menunggu ritual sesepuh desa.

naskah dan foto : arif furqan