Perayaan Kasada di kawah puncak gunung Bromo dirayakan setahun sekali setiap hari ke-15 di bulan Kasada (penanggalan Suku Tengger). Puncak dari Upacara Kasada adalah Larung Sajen/sedekah yaitu melempar sesajen berupa macam-macam hasil panen, ternak, dan bahkan uang.

Tradisi Lempar sesajen atau biasa disebut larung sajen/sedekah dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas rejeki dan hasil panen yang telah diberikan oleh Sang Hyang Widhi. Berbagai macam sesajen berupa hasil panen, uang, sayur-sayuran, dan hewan ternak dilempar kedalam kawah dengan harapan akan diberikan berkah rejeki dan panen yang melimpah di musim mendatang.

Satu hal yang unik dari Tradisi Larung ini adalah sekelompok orang Tengger yang berburu lemparan sedekah dari sesajen yang dilempar ke kawah. Sebelum ongklek-ongklek dilarung ratusan orang telah bersiap di dinding dalam kawah dengan peralatan untuk menangkap lemparan sesajen dan sedekah. Begitu ongklek ongklek dilempar ratusan orang dari berbagai umur berebut sesajen, bahkan banyak dari mereka yang menggunakan jala dengan tangkasnya untuk menangkap sesajen yang melayang.

Berbagai macam lemparan sesajen pun dijadikan sebagai rejeki bagi warga yang mau turun berburu di dinding dalam kawah. Meskipun cukup berbahaya tradisi ini kerap dilakukan setiap Upacara Kasada digelar. Pria wanita, tua muda, dan anak anak pun ikut meramaikan larung sajen di kawah Bromo. Acara Larung sesajen dimulai sejak menjelang subuh, sampai sekitar jam tiga sore. Selama itu banyak warga Tengger yang berdoa dan melempar sesajen atau sedekah dan sebagian berada dibawah untuk mencari hasil tangkapan.

Dari sekian banyak sesajen dalam upacara Kasada, sesajen utama dalam upacara Kasada adalah seekor kerbau sebagaimana telah dilakukan oleh nenek moyang terdahulu. Kerbau sesajen tersebut adalah pengganti satu jiwa anak bungsu yang diminta oleh Dewa dari 25 keturunan Jaka Anteng dan Rara Seger. Karena janji terebut diingkari, Sang Dewata pun murka dan terjadilah bencana meletusnya Gunung Bromo yang menelan si Bungsu dalam bencana.

Tradisi dan adat Suku Tengger sangat kental sekali, terbukti meskipun nilai sesajen lain tak sebanding dengan nilai sesajen utama, para pemburu tidak berani mengambil sedikitpun dari sesajen utama karena merupakan syarat atau persembahan utama untuk Sang Dewata demi kesejahteraan dan keselamatan seluruh Suku Tengger.

naskah dan foto : arif furqan