Surabaya memang sudah berubah. Namun bangunan-bangunan bernilai sejarah, harus tetap dijaga. Pesan inilah yang  ingin disampaikan Jansen Jansien, perupa asal Krian, Sidoarjo, dalam pameran terbarunya di Galeri Seni House of Sampoerna, 28 Januari hingga 26 Februari 2009.

Melalui pameran bertajuk “Soerabaia di Oedjoeng Doepa“, Jansen ingin menyampaikan pandangannya tentang eksploitasi bangunan-bangunan kuno yang ada di Surabaya, khususnya di kampung Pecinan.

Sisi keunikan dari sketsa buatanya adalah goresan ujung dupa dan tinta bak yang ditorehkan di atas kanvas dan kertas. Sebanyak 40 karya yang dipamerkan, menampilkan eksotisme seni, serta coretan asimetris huruf-huruf Jawa.

Dalam pameran ini, pengunjung dapat melihat sketsa master berukuran 190 x 142 cm berudul Soerabaia di Oedjoeng Doepa. Sketsa ini menceritakan sisi kuno dan modern yang bergerak dinamis.

Eka Mayasari, Art Gallery Executive House of Sampoerna mengatakan, Soerabaia di Oedjoeng Doepa jadi sketsa paling mahal dan terbesar diantara 40 sketsa yang dipamerkan.

Sketsa Berbicara
Untuk memotivasi seniman-seniman di Surabaya, digelar diskusi seni dengan tema “Sketsa : Kekuatan, Kelemahan dan Sejarah Apresiasinya“. Forum ini diadakan di Gallery House of Sampoerna, Selasa, 11 Februari 2009.

Dalam diskusi ini hadir seniman-seniman lokal, diantaranya dari Kelompok Pekerja Seni dan Pecinta Sejarah ( KPSPS ). Sebagai pembicara, Liem Kang, Indah Kurnia, dan Fredy H. Istanto, kurator pameran yang juga aktif sebagai pengajar di Universitas Ciputra.

Dalam pameran ini juga digelar “Jansen Jansien Art Writing Competitions“. Pengumuman pemenang kompetisi penulisan tentang segala hal yang berhubungan dengan karya, kiprah, dan komunitas  Jansen Jasien ini dilaksanakan pada 26 Februari 2009, bersamaan dengan penutupan pameran.

naskah : shiska pradibka | foto : dok pribadi