Biasanya nasib barang bekas akan berakhir sebagai tumpukan sampah yang siap untuk dibuang. Tapi tidak bagi mereka yang mempunyai ide-ide kreatifitas yang tinggi, barang apapun pasti bisa menjadi sesuatu yang memiliki nilai seni yang tinggi.

Hal inilah yang dilakukan oleh beberapa pengrajin karet di sepanjang tepi sungai Kalimas Surabaya. Jika berjalan menyusuri Jalan Karet Surabaya ini, akan nampak deretan-deretan tempat sampah indah yang terbuat dari ban-ban bekas. Dulu nama jalan ini adalah jalan Bibis, akan tetapi karena dulunya di sepanjang jalan ini hampir semua warganya bekerja sebagai pengrajin karet maka nama jalan ini pun diganti menjadi Jalan Karet.

Usaha yang sudah berdiri sekitar 20 tahun ini memiliki 4 pengrajin yang bertugas untuk membuat tempat sampah dari ban bekas yang sudah ada, dan 3 pengrajin yang bertugas untuk memberikan warna dan motif pada tempat sampah yang sudah jadi.

Ban bekas yang masih utuh dibelah menjadi beberapa bagian dan kemudian dibentuk menjadi tempat sampah sesuai dengan ukuran pemesanan. Setelah tempat sampah tersebut jadi, maka dilanjutkan dengan proses pengecatan. Untuk warna cat dan motif yang digunakan, biasanya ditentukan oleh pemesan sendiri. Setelah proses pengecatan dilakukan, tempat sampah tersebut kemudian dijemur dan dikeringkan.

Setiap 1 buah tempat sampah, terdapat 3 jenis ban bekas dalam pembuatannya. Untuk tutup dan alas tempat sampah, mengguanakan ban berukuran 750. utnuk badan tatau bodi tempat sampah digunakan ban yang berukuran 900 atau 1000. Sedangkan untuk mulut atau bibir dari tempat sampah menggunakan ban radial.

Untuk satu ban bekas ukuran 900, dapat menghasilkan 4 buah tempat sampah yang berdiameter sekitar 20-30 cm. Sedangkan seorang pengrajin karet tersebut bisa membuat 15-20 tempat sampah dalam sehari.

“Biasanya untuk satu tempat sampah diperlukan waktu 20 menit untuk membuat,“ kata Mukena, 64 tahun, pemilik usaha tempat sampah karet ini.

Untuk harga tempat sampah tergantung dari tiap besar ukurannya. Tempat sampah yang berukuran besar atau berdiameter 30cm dijual dengan harga Rp. 40 ribu sedangkan tempat sampah berukuran kecil atau berdiameter 25cm dijual dengan harga Rp. 35 ribu.

Sedangkan untuk pemasarannya, selain dari beberapa tempat di Surabaya seperti kenjeran dan tandes, tempat-tempat sampah ini juga biasanya di jual ke luar kota seperti Gresik, madura, Lamongan, dan Kediri.

Tempat sampah ini bisa awet digunakan selama 4-5 tahun. “Harganya murah kok, lagian kualitasnya juga tidak kalah dari tempat sampah dari bahan-bahan lain,” pungkasnya.

naskah dan foto : heru raya kandari