Di awal memulai usahanya, produk wayang karya Herlin Susilowati sempat ditolak pasar. Pemilik toko rata-rata tak percaya, masyarakat bisa menerima produk wayang mini seperti yang ia buat. Tapi Herlin tak mau menyerah. Ia usul agar si pemilik toko mau ambil 50 dulu. Meski enggan, akhirnya si pemilik toko menerima.

“Ternyata langsung ludes dibeli orang. Dia langsung minta supaya dikirim lagi,” kenang Herlin. Malah para pemilik toko itu minta agar suplai produk bisa diperbanyak dan dibuat dalam bentuk paket. “Mereka minta dibuatkan satu set wayang. Tidak bijian. Satu set wayang Pandawa, atau satu set wayang punakawan,” kata Herlin lagi.

Pada tim eastjavatraveler.com ia mengatakan, kini, usahanya mulai diterima masyarakat luas. Tidak hanya di lingkup Kabupaten Madiun, tapi sudah seluruh Indonesia. Karena selain menerima order di rumahnya yang berada di Jl Imam Bonjol, Kota Madiun, Jawa Timur, ia juga aktif mempromosikan produknya di jejaring sosial.

Upaya Herlin ini jelas mengundang kekaguman. Selain teguh menjaga tradisi wayang, ia melakukan semua aktifitasnya di atas roda. Ya, sejak usia dua tahun, ia menderita polio. Sehingga sehari-hari, ia lebih banyak duduk di atas kursi roda.

Namun demikian, Herlin tak pernah mengenal kata menyerah. Ia terus berkarya membuat wayang. Mulai dari wayang mini yang menggunakan medium kertas karton, duplex, hingga lukisan wayang di atas kulit kambing. Ukurannya bermacam-macam. Dari yang berukuran 5 centimeter, hingga lukisan wayang uhtuk hiasan dinding yang ukurannya dua meter.

Secara bisnis, karyanya juga jadi bahan pembicaraan dimana-mana. Nama Herlin diam-diam muncul di beberapa media terkemuka di Indonesia.

Herlin sendiri sebenarnya meneruskan usaha sang ayah. Sanggar Wayang Karya Budaya buatan ayahnya, tumbuh dengan semangat menjaga wayang tradisional agar tetap lestari. Saat ayahnya tak mampu meneruskan karena usia, Herlin pun terpanggil. Dengan sukarela ia meneruskan cita-cita ayahnya.

“Sayang kalau tidak diteruskan,” kata Herlin. Dan sikap ini bukan lahir karena terpaksa. Ia mengaku, sangat mencintai budaya wayang yang adiluhung ini.

Setiap hari, Herlin membuat 5-10 wayang mini. Saat tertentu lagi, ia melukis dan mengukir gambar wayang di atas kulit kambing atau sapi. “Kalau bahan kulit saya sering kerepotan. Kadang kalah cepay dengan perajin sepatu atau tas kulit. Jadi pas dapat ya bisa saya pakai buat menggambar wayang,” katanya.

Kini, konsistensi Herlin berbuah manis. Selain mendapat keuntungan finasial, ia boleh berbangga hati karena karya-karyanya sudah dinikmati warga Amerika Serikat dan Perancis. “Karya saya sering digunakan sebagai souvenir saat ada program pertukaran pelajar. Dan sanggar kami juga beberapa kali digunakan sebagai tempat magang mahasiswa IKIP Madiun,” bangga Herlin.

“Kalau boleh bilang, saya ingin agar wayang tidak dianggap sebagai penghias rumah semata. Tapi wayang adalah warisan leluhur yang wajib kita jaga. Karena di balik wayang, ada pesan-pesan moral yang bisa kita terapkan dalam hidup sehari-hari,” kata Herlin.